Jumat, 02 Oktober 2009

Chicken Soup for “The Siners”

Hidup dan dosa adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan sedikitpun. Bukan hanya bagi kita orang yang sudah jelas-jelas mandi dalam kubangan dosa tetapi juga mereka orang-orang yang katanya suci dan berjubahkan pahala. Jika saja orang suci itu mau mencoba jujur pada dirinya sendiri, bahkan percayalah merekapun malu pada dosa-dosa yang telah mereka lakukan.

Terkadang apa yang kita lakukan menjadi sangat jelas terlihat hitam dan putih. Tidak ada abu-abu atau warna lain yang memiliki arti ambigu. Hanya saja hati dan pikiran kita tidak cukup kuat untuk mengakui kebenaran akan warna yang jelas tampak. Lebih dari itu, semua yang dilakukan dianggap legal tanpa batas.

Terkadang kita pun sadar yang kita lakukan adalah sebuah kesalahan fatal dalam hidup bahkan jika lengah sedikit saja akan mampu menghancurkan dunia yang selama ini membesarkan kita. Namun lagi-lagi, hati dan pikiran kita tidak cukup kesatria untuk mengakuinya sebagai sebuah kebenaran. Atau lebih baik lagi bila mampu berpaling dan berlari sejauh mungkin. Karena memang tidak ada satupun alasan untuk bertahan. Yang ada hanyalah menunggu kehancuran itu benar-benar ada di depan mata dan kita hanya mampu meneteskan air mata tanpa kata-kata.

Terkadang kita tersadar bahwa semua yang dikatakan oleh malaikat-malaikat sekitar kita adalah benar adanya. Tidak ada sedikitpun keraguan karena memang itu yang benar-benar terjadi dalam realita. Namun, tetap saja kesadaran itu perlahan pupus saat kembali menjajaki jalan panjang dosa dan kebodohan. Hati dan pikiran kita ternyata masih juga belum dapat mengakuinya sebagai sebuah kebenaran. Ahhhh …rasanya percuma nyanyian malaikat itu. Toh pada akhirnya keadaan ini tetap sama, dan kita adalah kita tidak juga berubah.

Bukan buta dan tidak punya mata,
Bukan tuli dan tidak punya telinga,
Bukan pula mati rasa yang tidak memiliki indera

Hanya saja, hati dan pikiran kita membeku terbuai dalam lumuran dosa yang diwarnai dengan keindahan, ketenangan. Kesakitan dan air mata berbalut senyum kepuasan. Bayangkan saja, siapa yang menolak mendapatkan semua keindahan itu ??
Tapi tenang …semua yang terjadi di dunia ini pasti memiliki awal dan akhir juga memiliki penyelesaian yang indah. Hanya masalahnya sekarang, ada pada diri kita sendiri. Cukup kuatkah kita menjadi seorang kesatria yang berani mengatakan “ya atau tidak” ? Cukup mampukah kita melawan setan-setan yang berkeliaran yang terus saja menggoda dan tertawa saat kita masuk dalam lubang hitam ? jawab itu dan segera lakukan, bergeraklah ! Karena ingat, tidak ada satupun alasan untuk bertahan…tidak ada satupun.

Sejak dulu, sekarang dan sampai kapanpun akan ada jalan jika kita mau membuatnya. Tidak pernah berubah, karena kemauan adalah inisiator handal yang membutuhkan pembuktian nyata yang tidak hanya tersimpan rapat dalam lubuk hati sana. Jalan terang akan ada jika kita mau sedikit saja bergeser dari posisi dimana kita berdiri sekarang dan mencoba melihat segalanya dari kaca mata lain. Kaca mata kejujuran yang hakiki.








Tertulis dalam pena, Aku,
Orang yang hingga kini belum mampu menjalani hidup berhiaskan kesucian
Namun,
Akan terus mencoba untuk mencari kejujuran hakiki…

Selasa, 29 September 2009

Janji jempol untuk sahabat kecilku

Subhanallah….
Beribu puji terucap dari bibir ini, kelu. Kelu sekali rasanya.
Bingung harus bagaimana ku ucap syukur,
Allah telah mengirim mu kesini,
Sahabat ku yang dulu dan kini ada dihadapanku… menangis
Bukan dengan air mata
Tapi dengan suara batin yang terdengar olehku begitu dekat
Berat sekali beban hidup yang harus kamu tanggung
Hingga saat mendengar semua cerita dan kisah hidupmu
Air mataku menetes tak terperi
Bukan di wajahku, tapi jauh di dasar hatiku sana…
Dan itu lebih sesak dari yang hanya terekspresikan dalam guratan wajah
Sedih bagaimana bisa teman sepermainanku yang dulu menjalani hidup seperti itu
Sedih karena semuanya telah terlambat dan aku tidak bisa berbuat apa-apa
Sedih karena aku hanya mampu terpaku mendengar
Hanya mendengar !!!
Perih sekali rasanya melukiskan dirimu tertawa dan menangis bersama iblis itu
Perih mengetahui bagaimana pandangan dan penilaian orang terhadapmu
Perih ini membekas … karena kamu sahabatku
Ahhhhh…. Andai saja sejak awal aku terus ada disampingmu
Tak kan ku biarkan siapa pun menyakitimu seperti ini..
Tak kan pernah .
Aku ingin kamu melebarkan kembali sayap-sayapmu meskipun harus memungut kerangkanya satu per satu di jalanan
Aku ingin kamu tinggalkan saja semua bingkai hitam yang membelenggu hidupmu
Aku ingin sekali melihatmu bercahaya
Meskipun kini awan hitam terus saja menggelapi jalan kehidupan mu
Aku ingin …aku ingin membantumu. Ingin sekali ….
Tapi aku sadar,
Betapapun aku menyayangimu tetap saja aku orang lain
Aku hanya sahabat kecilmu yang tidak juga mampu mengubah semuanya
Sudah terlanjur.
Nyanyian batinmu akan kelemahan, kebodohan jiwa, dan kesesakkan batin
Menyeretku dalam lorong-lorong kesadaranku yang terdalam
Tak ku sangka jalan yang kini ku titi sejak awal ternyata hampir-hampir saja menembus dunia lain, dunia gelap seperti mu
Aku telah gagal menjagamu, sahabat kecilku
Aku benci itu !
Tapi aku tidak akan gagal menjaga diriku
Aku berjanji padamu
Janji jempol ku yang selalu kita buat saat memulai cerita-cerita rahasia kita
Janji yang akan kujaga hingga nanti ada gelar yang terukir di depan namaku
Hingga ku yakin kita semua baik-baik saja
Aku tidak ingin menambah penderitaanmu dengan melihatku jatuh ke lubang yang sama
Aku tidak ingin ikut menangis bersamamu
Bukan karena aku mau meninggalkanmu
Tapi karena, aku ingin ada disampingmu untuk membawamu pergi menuju cahaya
Aku ingin menjadi orang yang mampu memapah semua kelemahanmu
Aku ingin menguatkanmu
Percayalah … aku begitu menyayangimu ….
Ku tunggu di gerbang sana 4 atau 5 tahun dari hari ini
Aku ingin kamu menjadi peri cantik yang terbang kian kemari dengan senyum diwajahmu
Dan aku menjadi salah satu kebanggaan di kerajaan mimpi kita 
Amin …

This song vo us :
“Tetap jalani hidup ini… melakukan yang terbaik…
Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasaNya
Bagi hambaNya yang sabar dan tak kenal Putus asa ……
Jangan menyerah , jangan menyerah…..”

Ingat aku saat sakit menggerogoti hatimu
Ingat aku saat perih melanda jiwamu
Ingat aku saat jenuh menggulung hidupmu
Ingat aku dan mimpi kita ……
Aku adalah satu-satunya orang yang akan memelukmu erat saat kerapuhanmu memuncak dan tidak ada lagi yang mau melihatmu
Insyaallah..aku berjanji
_janji jempol_

Kamis, 27 Agustus 2009

Berpuasa dengan Cinta

Mencintai adalah hal terindah bagi setiap insan. Cinta yang agung adalah cinta yang tidak pernah berpikir untuk menerima tetapi selalu ingin memberi. Cinta yang agung adalah cinta yang penuh dengan pengorbanan tanpa ada niat sedikitpun untuk meminta imbalan. Bersedia melakukan apapun untuk yang dicintainya. Bersedia merasakan apapun demi memperoleh keridhaan yang dicintanya. Dan kini kita semua berada pada arena pembuktian cinta yaitu puasa. Puasa adalah salah satu instrument pencurahan cinta yang hakiki. Karena dengan berpuasa yang sebenar-benarnya sesungguhnya kita telah menggadaikan sisi kemanusiaan kita untuk memperoleh tingkatan tertinggi di sisi Allah SWT, dan itu merupakan wujud cinta yang agung. Tidak ada bukti yang memperlihatkan puasa sebagai masa hukuman dan membawa banyak penyakit seperti yang sering diperlihatkan iklan-iklan obat di televisi. Seakan dengan berpuasa seluruh kegiatan harian akan terganggu dan bahkan membawa banyak penyakit mulai dari maag, dehidrasi dll. Padahal fakta yang ada malah sebaliknya, puasa adalah penawar segala racun yang ada dalam tubuh baik dalam bentuk penyakit fisik maupun penyakit yang tidak terlihat sekalipun. Hal yang perlu diingat adalah Islam tidak pernah membawa umatnya pada kemudharatan, maka tidak perlu disangsikan lagi betapa besar manfaat yang dapat diperoleh dengan berpuasa lahir dan batin.
Olehkarena itu perlu dipertanyakan pada orang-orang yang sepanjang siang mengeluh menahan lapar dan haus, padahal badannya subur penuh dengan cadangan lemak. Perlu dipertanyakan pada pemuda yang sepanjang hari hanya bermalas-malasan, padahal badannya segar dan bertenaga. Perlu dipertanyakan pada bapak dan ibu-ibu di berbagai tempat yang sepertinya akan mati jika menahan lapar dan menahan nafsu untuk menghisap racun rokok beberapa jam saja. Dan perlu dipertanyakan juga pada orang yang pada malam harinya terasa begitu berat untuk melangkahkan kaki melaksanakan shalat tarawih berjamaah di masjid, padahal jaraknya tidak akan membuat kaki mereka lumpuh seketika. Tidakkah mereka sedikit saja merasakan malu dengan curahan cinta yang telah mereka terima setiap harinya. Curahan cinta yang sering kali tidak mereka syukuri sedikitpun mulai dari hembusan nafas, kesehatan, kebugaran badan, dan kesempurnaan fisik.
Sebaliknya, hatiku tertegun melihat bocah-bocah yang dengan semangat bangun sahur, berlomba-lomba untuk berpuasa sehari penuh bahkan mendahului kedua orang tuanya pergi ke masjid untuk tarawih berjamaah. Semangat mereka perlu diacungi jempol, karena meskipun masih ingusan tetapi mereka dapat lebih mampu bersyukur dan berterima kasih pada sang Khalik. Tidak ada sedikitpun rasa susah pada wajah mereka ketika harus menahan keinginan mereka untuk melahap es krim kesukaannya dan dengan polosnya mereka akan mejawab “aku sedang berpuasa” saat ditawari makan oleh temannya yang lain. Hatiku semakin tertegun ketika melihat pemuda cacat yang dengan penuh semangat mengayuh kursi rodanya agar tidak tertinggal rakaat shalat, padahal jarak yang ditempuh cukup untuk membuatnya pegal. Namun, yang ada diwajahnya hanya kesungguhan dan kebahagiaan karena masih bisa beribadah. Meskipun fisiknya tidak sempurna tetapi rupanya pikiran dan perasaannya lebih sempurna dibandingkan manusia lain hingga mampu menghargai nikmat yang telah Allah beri padanya, subhanallah.
Sebagai orang yang normal dan sehat aku malu menyaksikan semua pemandangan yang mungkin sekarang sudah jarang dilihat, aku malu pada diriku sendiri. Aku menahan haru sekaligus menyimpan sesak di dada bila kembali membayangkan klise lain kehidupan yang sudah sangat menggila. Dari anak kecil tadi dan dari orang-orang cacat yang aku temui, aku dapat mengambil pelajaran betapa cinta begitu besar mendasari kemudahan semua ibadah bagaimanapun keadaannya. Keterbatasan fisik bukanlah halangan tetapi yang menjadi halangan sebenarnya adalah hati yang kotor serta pikiran-pikiran picik manusia yang penuh dengan sisi kebinatangan, naudzubilah min’zdalik.

Senin, 24 Agustus 2009

Jaminan Berhasil bagi Seorang Aktivis

Lucu ketika mendengar pertanyaan

apa yang menyebabkan kamu mau menjadi seorang aktivis ?
apa ada yh berani menjamin kamu akan lebih berhasil; dari teman2 yang lain ?

Orang-orang yang berpikiran hanya di dalam box saja ungkin akan melihat seorang aktivis hanya orang-orang yang entah kemana pikirannya. Lebih memilih mengikuti kegiatan di luar yang terkadang terlihat tidak penting daripada sekedar tidur isyirahat di kost atau berdiskusi ke barat dan timur tentang banyak hal.
Namun, banyak hal yang tidak disadari bahwa ada banyak hal yang bisa didapatkan dengan menjadi seorang aktivis misalnya saja memiliki banyak rekanan kerja yang akan bermanfaat untuk mempromosikan dan mengangkat nama kita dalam dunia kerja, memiliki banyak pengalaman lapangan yang tidak perlu diragukan lagi kemnfaatannya dalam mebentuk skill kerja dan yang paling penting adalah memiliki wadah untuk meng"upgrade" dirinya sendiri sehingga dia akan lebih mengenal diri sendiri termasuk kelebihan dan kelemahannya. Itu semua tidak dapat kite peroleh jika kehidupan kita hanya berkutat dalam lingkup segitiga pintu saja (pintu kost, pintu kampus, pintu WC). Ada banyak pelajaran penting yang dapat kita ambil melalui interaksi dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Dan ada banyak pelajaran yang pasti bisa kita ambil mengenai diri kita sendiri dengan ikut aktif dalam berbagai kegiatan.

Seorang aktivis adalah orang-orang yang mengenal dirinya sendiri, adalah orang-orang yang bisa berpikir out of the box, adalah orang-orang yang mau dan mampu menjadi pemimpin sejati dan berkomitmen untuk menggunakan ilmunya dalam merubah peradaban dunia menjadi lebih baik lagi .

Jadi, apa masih ada orang yang mau menanyakan pertanyaan bodoh pada seorang aktivis ?

Senin, 17 Agustus 2009

Mahasiswa dan Dosa

Menjadi gamang ketika kita membahas problemantika mahasiswa dan dosa
Karena akn menjadi sangat gampang untuk melakukan dosa ketika kita berada jauh dari pengawasan orang tua
ketika kita telah berpikir klo kita bebas
ketika kita tidak memiliki orang-orang yang dengan sabar mau mengingatkan kita saat kita lupa
mirisnya, semua posisi "rawan" itu ditempati oleh mahasiswa
Mahasiswa yang sedang mencetak dirinya sendiri untuk masa depan

mau jadi ap bangsa ini jika tiap hari generasi mudanya mandi dengan dosa ?
mau jadi bangsa yang kaya kan dosa ?

penulis sendiripun sangat mungkin melakukan hal yang sama
jadi ,,
ayoo kita keluar dari lingkaran setan ini !

Nasionalisme Sudah Luntur ?

Hmmm ..
mengharukan sekali di tengah gegap gempita perayaan HUT RI ke-64 tetapi ternyata banyak generasi muda yang malah enak-enakan bergulung selimut di rumah
hmmm ..
memalukan sekali di tengah gegap gempita perayaan HUT RI ke-64 tetapi ternyata masih saja ada pertanyaan "kenapa siy ni rame-rame pawai"
hmm ..
menyedihkan sekali di tengah gegap gempita perayaan HUT RI i ke-64 tetapi ternyata anak-anak muda Indonesia malah sibuk ngisep rokok, nonton blue film

Sungguh mengharukan, memalukan dan menyedihkan
setelah 64 tahun merdeka tetapi rakyatnya masih diselimuti kegamangan akan arti kemerdekaannya sendiri ...

Indonesia ...... apa kabar kamu hari ini ?

Kamis, 21 Mei 2009

Pemuda dan Dualisme Perubahan Zaman

Oleh :Astri Sulastri Prasasti


Tanggal 20 Mei yang diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional rutin digelar di seluruh penjuru negeri dari tahun ke tahun. Hari Kebangkitan Nasional mengingatkan kita pada kejadian beberapa puluh tahun lalu ketika para pemuda menunjukkan eksistensinya di ladang perjuangan yang ditandai dengan berdirinya sebuah organisasi pemuda pertama, Boedi Oetomo. Esensinya, kesakralan hari Kebangkitan tidaklah terletak pada peristiwa apa yang terjadi pada waktu itu melainkan mengapa peristiwa tersebut dapat terjadi. Organisasi pemuda yang berhasil terbentuk hanya sebagai simbol dari sebuah pemikiran besar yang menjadi latar belakang dan pada akhirnya menuntut untuk diresapi lebih mendalam. Pembentukan Boedi Oetomo berangkat dari keprihatinan para pemuda akan nasib bangsa ini yang sepertinya belum berani melangkah karena ditunggangi oleh bangsa asing yang terus saja mengaduk-aduk kedaulatan bangsa Indonesia pada waktu itu. Keprihatinan pemuda ini kemudian melahirkan semangat perjuangan yang luar biasa sehingga berhasil membawa kedaulatan bangsa kembali dalam pelukan sang pertiwi. Semangat itu terus berkobar dan puncaknya terbingkaikan pada peristiwa yang terjadi 11 tahun lalu, ketika seluruh mahasiswa Indonesia, yang pada waktu itu dipelopori oleh mahasiswa UII bersatu, dan kemudian sanggup menumbangkan rezim orde baru yang diyakini telah terkotori dengan maraknya praktek KKN.
Namun kini 11 tahun sudah reformasi berjalan, semangat kebangsaan itu luntur sedikit demi sedikit seiring dengan masuknya era globalisasi yang mengantarkan banyak kebudayaan asing pada kita, khususnya generasi muda. Generasi muda merupakan agen penting dalam momen kebangsaan apalagi jika sekarang dihubungkan dengan kebangkitan. Cukuplah peristiwa-peristiwa lalu menjadi gambaran betapa pemuda memegang tombak perubahan dan sekaligus menjadi bukti bahwa pemuda memiliki andil besar sebagai penentu nasib bangsa beberapa tahun mendatang. Salah satu penyebab lunturnya jiwa kebangsaan dalam dada pemuda Indonesia adalah memasyarakatnya produk-produk kapitalisme yang banyak memberikan angin segar, sekaligus menjadi virus yang mematikan rasa berbudaya dengan segala daya tariknya. Lingkungan hedonis yang perlahan tercipta menyingkirkan kepribadian bangsa yang juga merupakan bagian dari budaya Indonesia. Belum lagi lahirnya kalangan matrealistis, konsumtif, serta non agamis yang sama sekali bertolak belakang dengan kepribadian bangsa ini, sungguh tragis. Bukannya memberikan peluang bagi anak bangsa untuk menggali ilmu dari bangsa lain tetapi malah menjerumuskan bahkan menghentikan jalannya proses belajar secara mandiri dalam kemasyarakatan. Anak-anak bangsa telah dicekoki oleh banyak fasilitas yang menawarkan berbagai kemudahan, kesenangan baik berupa musik, fashion, dan makanan hingga membuat otak-otak briliant serta otot-otot superman mereka tidak lagi berdaya guna bagi kemaslahatan umat. Hingga pada akhirnya tercipta pemuda-pemuda malas yang hanya bergantung pada teknologi tanpa memanfaatkan daya kreatifitas dan daya juang yang seharusnya masih bergelora dalam jiwa muda mereka. Diperparah lagi dengan perkembangan ilmu komunikasi yang semakin menambah luas wilayah epidemiologi virus globalisasi tersebut untuk merusak anak negeri. Padahal yang seharusnya terjadi adalah para pemuda menjadi first line deffense dalam menjaga kestabilitasan serta kemajemukan budaya.
Disadari atau tidak, globalisasi tidak akan dapat dihentikkan tetapi akan terus mengalami perkembangan. Maka yang seharusnya diubah bukannlah zamannya tetapi lebih kepada pandangan dan cara berpikir masyarakat khusunya para pemuda yang telah berhasil terinfeksi. Bangsa ini harus sadar akan keluhuran budi yang selama ini diagungkan sebagai kepribadian bangsa yang dapat dijadikan kontrol. Adalah hal yang bijak untuk tidak membatasi arus informasi, karena bagaimanapun kita tidak dapat menutup diri dari dinamika dunia karena kita memang bagian dari masyarakat dunia. Namun, seberapapun banyaknya kebudayaan asing yang masuk harus terlebih dahulu melewati berbagai proses sehingga dapat terlihat dengan jelas mana-mana saja yang dapat diambil segi positifnya. Perbedaan budaya akan selalu ada termasuk dalam bangsa Indonesia sendiri yang dikenal dengan kemajemukannya, akan tetapi perbedaan itu tidak seharunya dijadikan batu ganjalan untuk kita dalam menjaga keaslian bumi pertiwi. Sudah saatnya pemuda Indonesia bangkit dan menatap masa depan tanpa mematikan sendi-sendi kebudayaan dalam negeri. Pemuda dan hari Kebangkitan adalah satu, karena tanpa pemuda tidak akan pernah ada hari kebangkitan. Begitupun sebaliknya, tanpa hari Kebangkitan, pemuda dan perjuangannya adalah omong kosong belaka !

Jumat, 15 Mei 2009

Panggung Politik Bergoyang

Oleh : Astri Sulastri Prasasti


Kisruh Pemilu yang tengah terjadi sejak dimulainya penghitungan suara DPR, DPD dan DPRD beberapa waktu lalu kian mewarnai panggung politik yang kini semakin ‘menggila’. Tuduhan demi tuduhan dilancarkan beberapa pihak terkait kecurangan yang banyak terjadi di lapangan. Banyaknya angka pelanggaran yang dilakukan oleh para calon penghuni legislatif tidaklah sedikit. Kecurangan-kecurangan yang terjadi ditemukan baik pada tahap pencontrengan, pengumpulan suara hingga tahap akhir penghitungan. Sudah banyak korban berjatuhan akibat perang politik yang banyak diderita oleh calon-calon legislatif yang gagal memperoleh suara hingga tidak sedikit yang dilarikan ke Rumah Sakit Jiwa, belum lagi korba-korban yang lari ke pesantren-pesantren, menjadi pasien pengobatan alternatif bahkan nekat bunuh diri. Ironis memang, dunia politik yang seharusnya diisi oleh orang-orang berpendidikan dihadapkan pada kenyataan bahwa calon-calon yang maju pada Pemilu lalu merupakan orang-orang kerdil yang tidak siap kalah. Bukannya berniat membangun negeri yang baru mulai merangkak, tetapi malah memperebutkan kursi kekuasaan yang menjadi ladang empuk untuk melakukan banyak tindakan KKN.
Rentetan kejadian menimbulkan tanda tanya besar dari kalangan masyarakat, seperti itukah tokoh-tokoh politik agung yang kini sedang bertengger di atas sana ?
Terlalu sempit, bila kita mengira semua pemimpin bangsa ini serendah yang bayak ditampilkan media. Namun, cukuplah banyak kejadian tersebut menjadi peringatan sekaligus renungan bagi bangsa ini dalam melihat sosok calon pemimpin. Bangsa ini harus benar-benar selektif dalam memilih wakilnya termasuk memilih presiden dan wakil presiden yang beberapa waktu lagi akan segera dilangsungkan dalam Pemilu 8 Juni 2009 mendatang. Perhelatan akbar yang akan dijalani oleh bangsa ini begitu pelik karena banyak diwarnai intrik-intrik politik dari para penguasa. Sejak diumumkannya hasil Pemilu legislatif memberikan gambaran cukup jelas siapa-siapa saja yang berhasil menarik simpati rakyat. Sejak itu, partai-partai sibuk mengadakan rapat besar dan komunikasi politik lainnya guna mengatur strategi politik yang katanya membawa nama rakyat. Koalisi-koalisi dibentuk terkait perpanjangan komunikasi politik yang juga diwarnai pengkhianatan antar Parpol satu sama lain. Calon-calon pemimpin eksekutif tertinggi negeri ini belum banyak yang menampakkan batang hidungnya, karena masih sangat banyak tahap-tahap yang harus dilewati oleh partai politik sebelum menentukkan `siapa menggandeng siapa`.
Sejak runtuhnya rezim orde baru pada tahun 1998 lalu, negeri ini mengalami pasang surut kepemimpinan. Belum ada satupun pemimpin yang dapat benar-benar mendapat simpati dari rakyat secara penuh. Hal ini ditandai dengan seringnya bergonta-ganti presiden dan merupakan hal yang wajar bagi negara demokrasi. Bahkan negara superpower seperti Amerika pun sempat mengalami pasang surut politik sebelum menjadi negara adidaya seperti sekarang ini. Namun, yang menjadi tidak wajar ialah apabila dinamika panggung politik malah menjadi sorotan media di tengah gunungan masalah yang melilit rakyat hingga rakyat menjadi cenderung apatis dengan segala dinamika yang berkembang. Wakil rakyat seakan tidak lagi memiliki urusan lain yang lebih penting selain membahas masalah-masalah yang membawa kepentingan golongan bahkan individu. Sehingga secara otomatis menghilangkan esensi dari demokrasi itu sendiri yang berfungsi sebagai pemerintahan rakyat. Di samping itu, dunia mencatat bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang benar-benar melaksanakan demokrasi dalam segala pengambilan keputusan. Bangsa ini patut bangga dengan predikat tersebut yang seolah memberikan angin segar di tengah rentetan masalah yang membelenggu negeri. Hanya saja, rasanya menjadi tidak penting jika menyadari bahwa yang sesungguhnya terjadi adalah keikutsertaan rakyat dalam pesta demokrasi hanya mencapai angka 70% di luar masalah teknik. Angka ini menjadi salah satu bukti ketidakpedulian rakyat terhadap pemerintah hingga memunculkan konsepsi rakyat buta politik. Sebenarnya bukan rakyatnya yang salah memilih untuk tidak memilih, tetapi pemerintah sudah terlanjur menampilkan potret pemimpin yang sepertinya tidak akan mampu membawa rakyat menjadi lebih baik. Jadi, buat apa harus repot-repot memilih jika pada akhirnya tetap saja kecewa yang didapat ?
Hal ini yang kemudian menjadi masalah bagi pemimpin dan calon penguasa negeri ini. Memunculkan atmosfir politik yang sehat menjadi tuntutan agar rakyat tidak lagi merasa ada perang kepentingan yang mengatasnamakan rakyat, padahal rakyat sendiri harus bergulat dalam himpitan ekonomi, hingga masalah terkait bencana yng belakangan banyak terjadi. Pemerintah harus mampu menjawab tantangan-tantangan rakyat baik tersebut. Perlahan tapi pasti Indonesia mampu bangkit untuk dapat disandingkan dengan negara-negara yang telah lebih dahulu memperoleh kestabilan politik. Negara demokrasi tidak hanya akan menjadi cap semata bahkan dapat dibuktikan dengan partisipasi penuh dari rakyat diikuti dengan lahirnya pemimpin-pemimpin amanah yang mampu menyingkirkan anggapan miring mengenai pemimpin negeri ini, yang hanya bermodal janji manis dan menjadikan politik sebagai lahan mengais rezeki. Wakil-wakil rakyat termasuk presiden pada dasarnya adalah pegawai rakyat yang dibiayai oleh rakyat, yang berasal dari rakyat dan oleh karena itu sudah sepatutnya menjadi pelayan rakyat yang mau memikirkan nasib rakyat. Pelayan rakyat tidak hanya bertugas memenuhi segala kebutuhan rakyat tetapi juga mampu memberikan jalan keluar terbaik atas segala beban yang ditanggung rakyat bukan malah membebani rakyat dengan hutang negara yang terus bertambah. Lalu rakyat sendiri, haruslah dengan selektif memilih calon pelayan yang dapat melaksanakan semua tanggung jawab dan tidak akan mengkhianati kepentingannya sebagai seorang majikan. Hal ini dapat langsung diimpelentasikan dalam Pemilu Capres Cawapres mendatang. Satu suara dari rakyat sangat berarti, karena kita semua adalah sang majikan yang sedang mencari pelayan dalam rumah tangga bangsa. Jadi, sudah menjadi kewenangan majikan untuk memilih.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah anda sudah memiliki jiwa sebagai seorang majikan di negeri ini ?

Menjaga Amanah Orang Tua Sulit Bagi Mahasiswa Sekarang ?

Oleh : Astri Sulastri Prasasti


Belajar di tempat yang jauh dari orang tua bagi sebagaian orang adalah sebuah batu loncatan yang bisa digunakan untuk mengembangkan diri. Pada saat kita jauh dari segala kenyamanan dan zona aman yang bisa memberi kita banyak hal tanpa mengeluarkan banyak energi kita akan dipaksa untuk `fighting` dengan semua ketidaktersediaan dan keterbatasan sehingga jiwa-jiwa pemberani akan mulai terbentuk. Dari sinilah salah satu awal mula keberhasilan orang-orang perantau. Meskipun tidak sedikit juga yang tidak mampu bertahan dan terbawa arus pergaulan yang ada atau bahkan membuka pergaulan baru yang kian memburuk mengikuti keadaan lingkungan sekitarnya. Hal ini lah yang juga banyak terjadi pada mahasiswa kita sekarang. Merasa bebas dari kekangan orang tua membuat mereka lupa diri dan kebablasan dalam kebebasannya. Sering kali mereka lupa terhadap tujuan awal mereka dikirim untuk menuntut ilmu membawa nama baik keluarga. Sering kali mereka lupa akan nasihat dan harapan orang tua yang sejak awal telah ditanamkan pada diri mereka. Sering kali mereka lupa bahwa tidak sedikit pengorbanan yang telah orang tua mereka lakukan untuk membuat anak-anak mereka berhasil setidaknya beberapa langkah lebih jauh dari posisi mereka sekarang. Sering kali mereka lupa bahwa segenap doa selalu terucap untuk keberhasilan anak-anak mereka walaupun keadaan mereka sendiri penuh dengan segala keterbatasan. Hanya satu yang mereka inginkan, yaitu kegemilangan masa depan anak-anaknya. Tapi, apa ? kita malah mengecewakan mereka. Kita malah ingkar terhadap kepercayaan mereka. Entah apa yang akan mereka rasakan bila mengetahui bagaimana kelakuan anak yang selalu dibanggakannya kini, sakit sudah pasti.



Teman-teman yang kusayangi,
Tidak ada sedikitpun niat untuk menggurui atau berkesan so` menasihati. Kita berada dalam keadaan yang sama, sama-sama jauh dari orang tua, jauh dari kelurga. Karena kesamaan ini saya merasa bertanggung jawab untuk saling mengingatkan diri saya sendiri dan teman-teman yang sudah saya anggap keluarga kedua saya disini. Menjaga amanah orang tua adalah sebuah kewajiban dimanapun kita berada. Begitupun yang orang tua kita lakukan, memberikan semua yang terbaik dan berusaha memenuhi semua kubutuhan anak-anaknya walaupun jauh terpisah adalah suatu kewajiban yang tidak pernah sedikitpun mereka lalaikan. Oleh karena itu, sungguh tidak bijak jika kita disini malah mengkhianati harapan-harapan orang tua kita. Semua orang tua pasti berharap anak-anaknya berhasil dan mendapatkan kebahagiaan. Mari teman-teman kita jaga amanah yang telah mereka berikan . Mari berusaha untuk memenuhi harapan-harapan orang tua kita. Penyesalan selalu datang terlambat, jadi jangan sampai penyesalan itu ada karena kita tidak mampu memanfaatkan waktu dimana kita masih bisa berbakti dan membuat orang tua kita tersenyum. Senyum mereka akan sangat terasa berati bila nanti kita sadar bahwa senyum itu adalah senyum terakhir yang bisa mereka berikan pada kita, anak-anak kesayangannya. Dari saya sendiri, saya telah bertekad untuk senantiasa memberikan kebanggan bagi orang tua yang dengan sepenuh hati saya sayangi. Saya bisa, kalian juga bisa teman. Kita semua bisa !

Sosok Pemimpin Ideal, Adakah ?

Astri Sulastri Prasasti
Mahasiswi Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Indonesia
UII
Tahun 2008


Krisis kepemimpinan menjadi isu menarik bebarapa waktu belakangan . Salah satu pemacu terjadinya krisis di masyarakat adalah pandangan masyarakat itu sendiri terhadap sosok pemimpin yang terlalu subyektif. Penilaian masyarakat hanya sebatas pada peningkatan ekonomi besar-besaran yang ditandai dengan turunnya harga barang pemenuhan kebutuhan. Terlalu sempit hanya terbatas pada materi yang sesungguhnya tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran pasti. Kemajuan ekonomi tidak dapat dengan mudah melonjak naik, butuh proses panjang, begitu juga dengan penegakkan hukum yang memerlukan kesiapan dari seluruh elemen masyarakat terutama para pelaku hukum di Indonesia. Pemimpin yang selama ini dikenal dengan sebutan khalifah akan menjadi salah pengertian tanpa ada keimanan dan ketakwaan yang cukup. Khalifah berasal dari khalafa `yakhilu khilafatan berarti penerus bukan pemimpin seperti yang selama ini digaungkan. Hakikinya manusia dilahirkan sebagai khalifah adalah untuk meneruskan agama Allah SWT di bumi, sesuai firman Allah dalam QS. An Nisaa`:58
Allah telah memerintahkan kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. Kalau kamu menetapkan hukum kepada orang lain, lakukan secara adil. Allah telah memberimu nasihat yang terbaik. Allah Maha Mendengar Lagi Maha Melihat.
Ayat tersebut menerangkan kepada manusia untuk selalu menjaga amanat Allah yaitu meneggakkan dan meneruskan agama Allah di bumi. Manusia memang terlahir untuk menjadi pemimpin bahkan pemimpin bagi dirinya sendiri. Namun yang selama ini banyak dipahami adalah pemimpin yang memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi semua hal di muka bumi dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat tetapi justru memperkaya diri sendiri, pemimpin yang tidak dibatasi oleh norma dan nilai keagamaan. Sedangkan di ayat sebelumnya telah disinggung mengenai keadilan hukum, yang sekarang entah masih memiliki wibawa atau hanya menjadi wacana semata.
Krisis kepemimpinan menjadi hal yang penting, karena dari dulu, sekarang, hingga nanti bangsa ini akan selalu dipimpin. Namun apa yang akan terjadi jika ternyata pemimpin yang ada tidak mendapat kepercayaan penuh dari rakyat yang memang masih abu-abu dalam memandang sosok seorang pemimpin. Islam telah memberikan contoh pemimpin yang abadi dan terbaik sepanjang masa yaitu Nabi Muhammad Saw yang diturunkan Allah SWT untuk memberikan peringatan dan petunjuk bagi hidup dalam kehidupan manusia. Hal ini telah difirmankan Allah dalam QS. At Taubah:128
Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kalanganmu sendiri. Dia orang yang sangat peduli dengan penderitaanmu, dan peka terhadap persoalanmu, sangat penyantun dan penyayang kepada orang-orang yang beriman.
Nabi Muhammad Saw merupakan contoh pemimpin ideal yang didambakan sosoknya kini. Kejujuran dan integritas diri yang tinggi yang didasari sifat amanah, siddiq, tabligh dan fathonah merupakan modal utama yang selalu membawa beliau di puncak kewibaan. Kewibawaan yang tidak hanya sebatas sebagai orang yang dikagumi tetapi memberi contoh sekaligus, hingga nabi Muhammad dilahirkan sebagai uswatun khasanah. Kepribadian Beliau memancarkan kebenaran Al Quran yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Nabi Muhammad sebagai the walking Quran karena dalam setiap ucapan dan perbuatannya berdasarkan pada apa yang dituliskan Al quran, Subhanallah.
Namun kini, pemimpin sesosok nabi Muhammad menjadi sangat seulit untuk ditemukan. Kebanyakan pemimpin telah menjadi korban Liberalisme dan Komunisme yang bahkan dalam ajarannya banyak melenceng dari kaidah keagamaan. Liberalisme yang menjujung tinggi kebebasan seolah meniadakan norma dan nilai agama yang ada. Sedangkan Komunisme yang menerapkan sistem sama rata menghilangkan keadilan yang ada dalam kaidah agama itu sendiri. Perkembangan zaman dan pengetahuan yang sangat pesat juga menjadi pendorong lunturnya nila-nilai keagamaan yang sangat dibutuhkan dalam sebuah kepemimpinan.
Sosok pemimpin seperti nabi Muhammad lah yang sesungguhnya dicari untuk memenuhi krisis kepemimpinan yang terjadi belakangan ini. Kepemimpinan Islam akan tercipta saat dalam praktekanya Islam dijadikan suatu disiplin ilmu yang dapat diterima oleh berbagai kalangan. Sama seperti pada zaman Rasulullah yang menerapkan Islam sebagai pedoman dalam segala tindakan yang diambil. Akan menjadi sulit apabila hukum Islam dilaksanakan sebagai sebuah aturan konstitusi, mengingat keadaan bangsa Indonesia kini yang telah tercemari dengan ajaran liberalis dan komunis. Hukum Islam dapat tetap berjalan sebagai disiplin ilmu dengan menjadikannya sebagai dasar dalam setiap pengambilan keputusan yang juga tetap mengacu pada hukum yang berlaku di Indonesia. Syariat Islam sebagi ilmu akan tercermin dalam setiap ucapan dan perbuatan sang pemimpin yang kemudian dapat menjadi contoh bagi masyarakat luas.
Kepemimpinan akan dikatakan berhasil jika telah mendapat dukungan rakyat secara penuh untuk menjalankan fungsi-fungsi kepemimpinannya. Pemimpin yang ideal tahu tatacara bertindak sehingga dapat menetukan kapan harus menjadi seorang otoritan, kapan menjadi seorang demokratan dan kapan harus menjadi seorang liberalis tanpa mengesampingkan kaidah Islam yang harus senantiasa dijunjung tinggi. Kepemimpinan yang baik tidak hanya diukur dari keberhasilan ekonomi dan penegakkan hukum tetapi dinilai pula dari kepatuhan masyarakatnya sendiri. Oleh karena itu dalam mencari pemimpin yang ideal diperlukan andil masyarakat untuk mewujudkan lahirnya pemimpin yang berwibawa secara utuh. Masyarakat harus memberikan respon positif dan menilai sosok pemimpin secara obyektif. Dengan begitu insyaallah, bangsa ini akan melewati krisis kepemimpinan yang telah terjadi dalam waktu yang cukup lama. Mari bangkit dan perbaiki bangsa ini sekarang !

Kepemimpinan Dambaan Abad Milenium

Oleh Astri sulastri Prasasti


Krisis kepercayaan atau lebih tepatnya krisis kepemimpinan yang sejak Islam runtuh mulai menyeruak ke permukaan kini melanda masyarakat. Real politic dalam mencapai kekuasaan membuat lembaga-lembaga negara yang ada medapat citra buruk di mata rakyat. Begitu pula dengan pemimpin-pemimpin negeri ini yang selalu saja berakhir dengan kekecewaan yang diwarnai konflik berkepanjangan. Sebenarnya sosok pemimpin seperti apa yang diharapkan untuk mengakhiri krisis ini ? Sebelum menjawabnya, sedikit akan dibahas mengenai kepemimpinan, secara umum maupun menurut pandangan Islam. Kepemimpinan bukanlah hal yang asing lagi di telinga kita semua. Pada dasarnya sejak kecil kita telah diperkenalkan dengan kepemimpinan, walaupun setingkat Taman Kanak-Kanak (TK). Misalnya saja, sejak dulu telah ada pembentukan ketua kelas, sekretaris, bendahara dan berbagai aparatur kelas lainnya. Maka, secara tidak langsung kita semua telah menjalankan kepemimpinan. Kepemimpinan pada dasarnya adalah seni untuk mempengaruhi orang lain secara konkrit yang diwujudkan dalam tindakan oleh orang yang dipengaruhi. Kepemimpinan juga merupakan seni berhubungan antara pemimpin dan orang yang dipimpin. Kepemimpinan sangat erat kaitannya dengan sosok pemimpin. Karena kepemimpinan akan dapat berjalan bila didalamnya terdapat seorang pemimpin yang dapat menjadi pusat atau sentral dari segala kepentingan yang dapat berfungsi sebagai motivator dan stimulator sekaligus sosial kontrol untuk memenuhi harapan-harapan anggotanya sebagai orang yang dipimpin. Inti dari kepemimpinan selain adanya seorang pemimpin yaitu memiliki tujuan yang jelas dan merupakan sebuah hasil dari interaksi sosial.
Ada banyak sekali teori dalam menjalankan kepemimpinan, tergantung dari segi mana memandangnya. Namun, secara umum ada 6 teori dalam kepemimpinan, yaitu :
1. Teori Orang-orang terkemuka
Teori ini mengemukakan bahwa kepemimpinan dapat berasal dari warisan yaitu dengan menggunakan sistem kekuasaan berdasarkan pada keturunan misalnya saja dalam sistem monarki (kerajaan). Selain itu, kepemimpinan juga dapat berasal dari seorang pribadi yang superior, yaitu pribadi yang memang memiliki kemampuan baik itu dari segi karakter, komunikasi, intelegensi, energi maupun moral untuk memimpin. Namun, yang kedua ini adalah jalan terbaik untuk melahirkan seorang pemimpin karena tanpa ada kecakapan yang dimiliki kepemimpinan tidak akan bisa berjalan dengan baik, kita tahu kepemimpinan bukan hanya seni berkomunikasi dan berhubungan saja tetapi juga seni mempengaruhi orang lain. Maka diperlukan, sosok yang benar-benar mampu untuk bisa menjadi panutan bagi masyarakat.
2. Teori Lingkungan
Teori kedua ini berbicara mengenai kemampuan sang pemimpin yang dapat dilihat ketika keadaan sekelilingnya berubah, ketika menghadapi tekanan serta dapat juga dilihat dari kemampuannya beradaptasi ketika menghadapi keadaan yang baru. Teori lingkungan mengemukakan bahwa kepemimpinan sangat bergantung pada situasi kelompok dan kepemimpinan terdahulu yang dapat dijadikan cerminan untuk keadaan yang sekarang dihadapi. Dengan situasi kelompok yang tidak mendukung seorang pemimpin yang cakap pun pasti akan mengalami kesulitan dalam menjalankan kepemimpinannya.
3. Teori Personal Situasional
Teori personal situasional mengatakan bahwa dalam sebuah kepemimpinan seorang pemimpin harus dapat melihat sifat pribadi dirinya sendiri dan juga karakteristik anggotanya. Sehingga dapat dijadikan acuan dalam penentapan tujuan dan langkah-langkah yang akan dilakukan selanjutnya. Tujuan serta langkah-langkah yang ditetapkan kemudaian akan bias disesuaikan dengan sumber daya manusia yang tersedia.
4. Teori Interaksi Harapan
Setiap anggota pasti memiliki harapan masing-masing yang berbeda satu sama lain dalam mengikuti suatu kepemimpinan. Oleh karena itu, dalm hal ini sensitifitas pemimpin sangat dibutuhkan. Karena sama halnya dengan anggota, pemimpin juga memiliki harapan tersendiri pada posisinya sebagai seorang pemimpin. Agar terjadi interaksi harapan yang harmonis maka frekuensi pertemuan keduanya harus lebih tinggi. Dengan semakin sering terjadi kontak secara fisik maka akan berpengaruh pada perasaan satu sama lain yang nantinya diharapkan akan menumbuhkan motivasi dari pemimpin itu sendiri untuk menjalankan kepemimpinannya mewujudkan harapan anggota maupun dari anggotanya sebagai orang yang dipimpin untuk terus memenuhi harapan pemimpinnya. Dengan demikian akan terjadi keseimbangan harapan yang akan membawa dampak positif bagi kepentingan kepemimpinan itu sendiri.
5. Teori Humanistik
Dalam humanistik lebih ditekankan pada hubungan yang terjalin antara pemimpin dan yang dipimpin. Bagaiamana seorang pemimpin dapat menempatkan dan memperlakukan anggotanya. Sehingga yang dibutuhkan disini adalah kemampuan intrapersonal seorang pemimpin untuk bisa menilai apa saja kepentingan dari tiap-tiap anggota dan bagaimana kedudukannya dalam kepemimpinan. Harapnya tidak lain agar terjalin sistuasi yang harmonis dan akan mendukung jalannya kepemimpinan ke depan. Seorang pemimpin diharuskan untuk sebisa mungkin menempatkan anggotanya sebagai satu tim tanpa menghapuskan harkat dan martbatnya sebagai pemimpin. Sehingga tidak akan terjadi kesenjangan kedudukan yang bida membawa perpecahan di kemudian hari.
6. Teori Pertukaran
Di awal telah disebutkan bahwa setiap anggota memiliki kepentingan dan harapan masing-masing begitupun pemimpin. Oleh karena itu, agar suatu kepemimpinan dapat mencapai tingkat stabilitas atau keseimbangan harus ada kata “saling” atara pemimpin dan anggota, baik itu saling menghormati, saling membantu ataupun saling-saling lainnya. Keseimbangan ini sangat diperlukan untuk mengukuhkan kepemimpinan sehingga anggota dapat digerakkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya tanpa ada pihak yang merasa dirugikan.

Berdasarkan teori-teori kepemimpinan yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa dalam kepemimpinan harus ada batasan-batasan yang mengatur hubungan antara pemimpin dan anggota yang dipimpin. Namun, hal yang perlu ditekankan ialah ada prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam setiap kepemimpinan, yaitu :
a. Efisiensi
Segala keputusan dan kebijakan yang diambil oleh seorang pemimpin harus efektif dari segi teknis maupun taktis karena seorang pemimpin harus bisa berpikir jauh resiko-resiko apa saja yang akan dihadapi. Maka dalam penyusunan tujuan maupun proses pengambilan keputusan telah melewati proses pemikiran yang panjang diperhitungkan dengan kemampuan serta kedaan anggota.
b. Pengenalan Diri
Seorang pemimpin harus bisa mengenali siapa dirinya sehingga akan diketahui juga semua kelebihan serta kekurangan yang dimilikinya. Maka, selanjutkan akan mudah untuk menentukan apa saja yang harus dilakukan untuk memperbaiki segala kekurangan yang ada dalam dirinya dan pengikutnya pun dapat diberi pengertian sehingga tidak akan ada kesalahpahaman di kemudian hari. Selain itu, dia juga harus bisa mengenali bagaimana, dan siapa saja pengikutnya. Agar dalam segala tidakan dan keputusan yang diambil dapat menyeuaikan dengan keadaan anggota.
c. Memberikan jaminan
Seorang pemimpin dalam pemberian tugasnya harus mampu memberikan jaminan terhadap anggotanya. Dalam hal penerangan mengenai tugas yang diberikan, contoh sekaligus jaminan bahwa tugas tersebut delah sepenuhnya dimengerti oleh anggotanya sehingga dapat dijamin pula bahwa tugas itu dapat berjalan dengan baik, Dalam pelaksanaan tugas seorang pemimpin juga harus bisa menjamin pengawasan jalannya tugas tersebut.
d. Kerja satu tim
Tidak boleh tercipta kesenjangan sosial dalam suatu kepemimpinan. Bila kesenjangan tersebut terjadi maka komunikasi dua pihak anata pemimpin dan yang dipimpin tidak akan pernah tercipta. Padahal komunikasi merupakan indikator yang sangat vital dalam sebuah kepemimpinan.
e. Memberikan putusan
Dalam memberikan putusan, seorang pemimpin harus tahu kapan dan dimana saat yang tepat. Kebijakan-kebijakan yang diambil juga harus telah disesuaikan dengan harapan-harapan serta keadaan anggota sebagai obyek dan subyek kebijakan.

Kepemimpinan adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, karena ada dalam setiap aspek kehidupan. Misalnya saja dalam keluarga. Apabila dalam sebuah kelurga tidak ada kepemimpinan maka mustahil akan terjalin keharmonisan yang utuh. Contoh lain adalah dalam keorganisasian. Dalam organisasi sudah pasti ada kepemimpinan, namun kepemimpinan belum tentu dalam bentuk sebuah organisasi. Yang perlu diketahui adalah syarat-syarat apa saja yang diperlukan untuk membentuk suatu kepemimpinan yang diidam-idamkan, yaitu adanya seorang pemimpin, ada orang-orang yang dipimpin atau bisa disebut dengan anggota, memiliki tujuan yang jelas, adanya aktivitas ataupun pembagian tugas yang nyata, ada interaksi yang terjalin baik antara pemimpin dengan anggota maupun sesama anggota dan yang terakhir adalah adanya power yang dimiliki oleh setiap kepemimpinan agar memiliki pengaruh yang besar terhadap para anggotanya.

Lalu, bagaimana pandangan Islam ?
Secara umum pandangan mengenai kepemimpinan antara padanangan sekuler dan pandangan Islam itu hampir sama. Dalam Islam adanya kepemimpinan adalah sebuah kewajiban baik itu secara aqli maupun secara syari’i. Hal ini dituangkan dalam QS.An Nissa : 59, yaitu :

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah. Taatlah kepada Rasul dan penguasa darimu. Jika kamu berselisih tentang sesuatu, rujukkanlah kepada (kitab), Allah dan (sunah) Rasul. Jika kamu memang beriman kepada Allah dan hari akhir. Yag denikian itu lebih utama dan lebih baik bagimu.

Dalam surat tersebut dengan jelas telah diterangkan bahwa kita harus patuh terhadap pemimpin yang berkuasa diantara kita. Ini merupakan salah satu bukti bahwa Islam sangat menekankan tegaknya sebuah kepemimpinan karena Islam sangat menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan umat. Persatuan dan kesatuan umat akan bias dibentuk dalam sebuah kepemimpinan. Adanya kepemimpinan akan mendorong terjadinya persamaan suara sehingga Islam menjadi semakin kokoh dan dapat pula diibaratkan sebagai barisan yang teratur seperti barisan shaf saat shalat berjamaah. Dalam QS. Ash Shaff : 4 disebutkan bahwa :

“Sungguh Allah cinta kepada orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang tertib bagaikan bangunan yang disusun kuat.”

Selain itu, manfaat lain dari sebuah kepemipinan adalah umat Islam akan menjadi lebih terorganinsasi dalam setiap kegiatannya. Terlebih lagi umat Islam harus senantiasa melakukan amal ma`ruf nahi munkar dalam amalan hidup sehari-hari, seperti yang tertuang dalam QS.Ali Imran :104 yang berarti :

“Hendaklah ada diantaramu kelompok yang selalu mengajak kepada kebajikan , memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah dari kemungkaran. Mereka itulah orang-orang yang mencapai kebahagiaan.”

Dalam Islam ada beberapa prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam sebuah kepemimpinan, diantaranya ialah :
1. Tidak boleh mengangkat seorang pemimpin yang berasal dari orang kafir., karena akan memberi pengaruh kepada orang-orang yang dipimpinnya. Dalam QS.An Nisa : 144 telah disebutkan bahwa :

“ Hai orang-orang yang beriman,janganlah kamu mengangkat orang-orang kafir sebagai teman karib, selain orang-orang mikminin. Apakah kamu menginginkan Allah punya alasan kuat untuk menyiksamu.”

2. Setiap kelompok meskipun itu kelompok kecil memerlukan seorang pemimpin.
Diriwayatkan dalam hadist oleh Abdu Dawud bahwa dalam kelompok seperti apapun harus diangkat sorang pemimpin. Hal ini dimaksudkan agar tujuan-tujuan yang ditetapkan oleh kelompok tersebut menjadi jelas dan terarah. Sehingga kegiatannya dapat lebih terperinci dengan perencanaan serta pengkoordinasian yang baik.

3. Pemimpn yang dipilih harus memiliki keahlian yang tepat.
Seorang pemimpin harus memiliki keahlian karena seperti yang telah dibahas pertama bahwa kepemimpinan adalah uatu seni mempengaruhi dan berkomunikasi dengan orang lain. Oleh karena itu, diperlukan keahlian khsus untuk menjadi seorang pemimpin, karena banyak yang bilang bahwa seseungguhnya pemimpin itu bukanlah proses pembentukan. Namun, lebih kepada proses pemunculan, pengasahan serta bakat yang memang telah dimiliki sejak kecil.

4. Acceptable
Seorang pemimpin harus diterima oleh seluruh anggotanya. Tanpa ada penerimaaan kepemimpinan yang ada tidak akan dapat berjalan dengan baik karena pasti akan ada banyak konflik yang terjadi dari dalam kepemimpinan itu sendiri. Dengan sebuah penerimaan maka pemimpin yang berkuasa akan mendapatkan dukungan dalam mengemban tugasnya, sehingga semua keputusan ataupun kebijakan yang diambil akan mendapat respon yang positif yang akan berpengaruh kepada ketercapayan tujuan yang telah ditetapkan. Selain itu, pemimpin yang diterima oleh seluruh anggota akan mendapat simpatik dari anggotanya sehingga ia akan dicintai dan didoakan seperti yang telah diriwayatkan dalam hadist HR. Muslim.

5. Mengedepankan kepentingan umat diatas kepentingan pribadinya.
Salah satu prinsip kepemimpinan dalam Islam adalah mengedepankan kepentingan umat karena seorang pemimpin memang bertugas untuk mngemban amanah yang telah diberikan kepadanya yang berasal dari rakyat benyak. Maka, konsekuensinya adalah bagaimana pemimpin tersebut mampu mengakomodir semua kepentingan dan harapan dari rakyat. Seorang pemipin khususnya, akan dapat dikatakan excelent apabila dia sudah bisa keluar dari kepentingan pribadinya sendiri. Seperti yang telah dilakukan oleh Rasulullah Saw. Beliau begitu mencinatai rakyatkanya, hingga dalam melakukan tindakan apapun selalu diperhitungkan terhadap apa-apa saja dampak bagi rakyatnya. Bahkan ketika Beliau meninggal Beliau tidak lagi menyebut istriku, anakku atau saudaraku tetapi Beliau malah menyabut umatku, umatku, umatku sampai tiga kali. Inilah salah satu bukti kecintaan Rasulullah Saw kepada rakyatnya yang sudah seharusnya ditiru oleh para pemimpin kini. Taraf yang telah dimiliki oleh Rasulullah ini disebut denan taraf significant.

6. Tidak berlaku otoriter, arogan dan sewenang-wenang
Islam sama sekali tidak membenarkan adanya sifat arogan, otoriter apalagi kesewenang-weanngan. Sejak zaman Rasulullah Saw Islam selalu melandaskan kepemimpinannya dengan demokratis walaupun pada saat itu secara logika dalam sejarah, kepemipinan yang sangat mungkin terjadi adalah kepemimpinan otoriter dimana Nabi dan para Khulafaurasyidin memiliki kekuasaan penuh atas seluruh lapisan masyarakat. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa kepentingan rakyat harus selalu diutamakan maka sudah jelas kesewenang-wenangan sama sekali tidak dibenarkan dalam Islam. Semua keputusan yang diambil harus melalui proses pemikiran yang panjang dengan memikirkan segala konsekuensinya bagi rakyat serta dilakukan dengan demokratis.

7. Sehat baik itu rohani maupun jasmani
Prinsip terakhir dalam kepemimpinan Islam adalah seorang pemimpin harus memiliki kesehatan secara menyeluruh baik itu jasmani maupun rohani. Karena tidak mungkin seorang pemimpin yang sakit dapat memimpin dengan baik dan menjalankan fungsi kepemimpinannya. Maka, sehat menjadi salah satu syarat mutlak salam suatu kepemimpinan.

Kepemimpian dalam Islam berati juga membicarakan tentang pemimpin. Islam menyebutkan bahwa kepemimpinan adalah sebuah proses panjang dari Allah Swt dalam menciptakan pemimpin-pemimpin yang mampu memakmurkan rakyatnya. Pemimpin adalah seorang yang telah memiliki bakat kepemimpinan yang merupakan anugerah dari Allah Swt. Namun, bakat ini tidak muncul begitu saja melainkan melewati sebuah reli dan proses belajar dalam hidup. Tidak dapat dipungkiri kepemimpinan Islam yang paling sempurna berada di tangan Nabi Muhammad Saw, namun bukan berati setelah Rasul meninggal kepemimpinan Islam tidak lagi dapat mencapai taraf kesempurnaan. Karena sesungguhnynya seluruh sifat kemanusiaan termasuk gaya kepemimpinan Rasul telah ada dalam diri kita kecuali sifat kenabian. Sehingga kepemiminan tersebut dapat diimplementasikan di zaman sekarang ini. Proses panjang untuk melahirkan seorang pemimpin tidaklah mudah. Harus ada banyak medan latih yang dapat berguna untuk menempa dan mematangkan bakat-bakat kepemimpinan yang ada, karena bagaimanapun guru yang paling berharga adalah pengalaman. Meskipun ada beberapa orang yang bakat kepemiminannya memang sudah terlihat melalui cara berbicara dan sikap hidupnya sehari-hari.
Pelaksanaan kepemimpinan Islam akan terlihat dengan adanya musyawarah, keadilan, dan kebebasan berpikir. Musyawarah yang telah menjadi budaya Islam sejak dulu sebelum terjadi kesewenangan pemimpin yang berubah menjadi sistem kerajaan yang absolut. Dalam musyawarah tentu saja melibatkan banyak pihak sehingga akan ada banyak pemikiran yang bisa menjadi petimbangan untuk mendapatkansatu keputusan yang terbaik. Oleh karena itu, musyawarah menjadi sangat penting karena selain keputusan yang diambil dapat lebih mewakili suara rakyat kerea berasal dari banyak pemikiran sebagai wakilnya, musyawarah juga akan mengokohkan jalannya kepemimpinan karens semua keputusan dan kebijakan yang diambil telah mengalami masa penggojlokan sehingga diterima dengan mudah oleh rakyat banyak.

Karena rahmat Allah kamu bersikap lunak kepada mereka. Sekiranya kamu keras dan kasar, niscaya mereka akan menjauhimu. Karena itu maafkanlah dan mohon ampun bagi mereka. Ajaklah mereka bermusyawarahtentang suatu persoalan. Bila kamu telah memutuskan untuk lakukan sesuatu, bertawakallah kepada Allah. (QS.Ali Imran: 159)

”Mereka yang selalu mematuhi ajakan Tuhannya, mendirikan shalat dan persoalan mereka diputuskan dengan musyawarah di kalangan mereka.”
(QS. Asy Syuuraa : 38)

Selain musryawah, Islam juga sangat mengedepankan keadilan. Menjadi orang yang adil memang tidak mudah namun hal itu masih tetap bisa dilakukan bila kita telah mampu keluar dari kepentingan diri sendiri atau seperti yang telah disebutkan yaitu mencapai taraf significant.

”Allah memerintahkan kamu untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. Kalau kamu menetapkan hukum kepada orang lain, lakukan secara adil. Allah telah memberimu nasihat yang terbaik.”( QS. An Nisa :58)

”Hai orang-oran beriman, tegakannlah kebenaran dalam nejadi saksi yang adil karena Allah. Janganlah kebencianmu mnedorong kepada suatu kelompok mendorongmu untuk berlaku tidak adil.” (QS. Al Maidah :8 )

Faktor terpenting ketiga yang juga sangat diagungkan dalam Islam adalah kebebasan berpikir. Dengan adanya kebebasan berpikir maka dalam merumuskan masalah ataupun dalam proses pengambilan keputusan tidak akan ada sesuatu yang ditutupi yang akan beresiko membawa keburukan kelak. Karena keputusan dan kebijakan yang diambil telah melewati proses berpikir yang panjang dari berbagai kemungkinan yang terjadi. Kemudian, kebebasan berpikir ini yang akan berperan untuk mengontrol sebuah kepemimpinan agar tetap berjalan baik yang diwujudkan dengan memberikan pemikiran-pemikiran sebagai masukan maupun kritikan bagi pemimpin. Kritikan dan masukan yang baik adalah kritikan yang telah truji kebenarannya dan tidak hanya menjadi asumsi pribadi yang tidak dapat dibuktikan. Kebebasan berpikir juga menjadi satu indikator positif bahwa dalam kepemimpinan tersebut telah memiliki sistem demokratisasi. Sehingga inti dari demokratisasi ini akan bisa terwujud yaitu berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk kepentingan rakyat banyak.
Menjalankan kepemimpinan dalam demokratisasi bukan berati menutup jalan bagi sistem-sistem yang lain. Karena Islam tidak memberikan batasan-batasan dalam gaya meupun metode kepemimpinan yang digunakan. Dalam hal ini pemimpin harus mampu menem patkan dirinya dalam segala pengambilan keputusan yang disesuaikan dengan keadaan yang terjadi. Seorang pemimpin juga harus luwes dalam kedudukannya, tidak kaku dengan satu gaya kepemimpinan saja. Ada saatnya demokratis itu menjadi yang utama, namun ada saatnya juga pemimpin harus menjadi seorang yang otoriter. Otoriter disini bukan dengan kesewenangan dan bukan juga tirani yang tidak memikirkan kepentingan rakyat banyak. Bagaimanapun kepentingan rakyat adalah hal utama yang harus dijunjung tinggi oleh seorang pemimpin. Untuk menjalankan kepemimpinan yang excelent, memerlukan pemimpin yang excelent pula. Kriteria yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin antara lain sebagai berikut :
a. Mengenal Allah SWT, karena dengan menganl siapa penciptanya maka seorang pemimpin juga akan mampu mengenali siapa dirinya, bagaimana kedudukannya serta apa kekurangan dan kelebihan yang dia miliki.
b. Seorang pemimpin harus menguasai ilmu pengetahuan serta hukum-hukum yang berlaku dalam masyarakat sehingga apapun yang menjadi kebijakannya sudah berlandaskan pada ilmu dan hukum.
c. Memiliki kemampuan secara menyeluruh baik itu dalam segi konseptual yaitu dalam merencanakan atau membuat konsep pemikiran yang kemudian akan dapat dikembangkan menjadi berbagai kegiatan nyata, kemampuan sosial dimana seorang pemimpin juga harus mampu mengomunikasikan rancangan pemikiran yang telah ia buat sehingga kemudian dapat direalisasikan dengan kemampuan ketiga yang harus dimiliki yaitu kemampuan operasional.
d. Berorientasi pada kepentingan rakyat. Artinya adalah dalam setiap pengambilan keputusan harus menitikberatkan kepada kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi dan golongan.
e. Tanpa keberanian yang cukup seorang pemimpin tidak akan mampu menjalankan fungsi-fungsi kepemimpianannya dengan baik. Oleh karena itu, keberanian menjadi salah satu kriteria utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Kriteria-ktiteria diatas tidak harus dijadikan satu-satunya pedoman untuk menentukan figur seorang pemimpin yang pas. Namun, dapat dijadikan sedikit rujukan sehingga kita tidak asal memilih pemimpin tanpa melihat kemampuan serta keterampilan yang dimiliki. Seorang pemimpin tidak hanya harus ahli dibidangnya ttai juga harus memiliki tangung jawab dan rasa kepemilikan yang besar. Dengan adanya rasa kepemilikan terhadap daerah kepemimpinannya maka dalam menjalankan tugas sebagai seorang pemimpin, ia tidak akan segan-segan memajukan kepemimpinan tersebut. Sesungguhnya kita semua adalah orang-orang yang dilahirkan menjadi seorang pemimpin. Kita berpotensi untuk menjalankan kepemimpinan Rasulullah Saw yang telah memberikan suri teladan terbaik sepanjang masa. Selain sifat kenabian yang hanya dimiliki oleh para nabi dan Rasul Allah semua tindakan dan sikap bahkan jalan pemikiran Rasulullah yang pada masanya bahkan sangat modern bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bangsa ini bahkan dunia sangat mengharapkan seorang pemimpin yang mampu mengayomi seluruh lapisan masyarakat dengan berbagai kebijakan yang tidak berat sebelah. Bangsa ini bahkan dunia sangat mengaharapkan lahirnya pemimpin-pemimpin muslim yang bisa membawa rahmat bagi seluruh rakyat dunia seperti yang terjadi pada zaman Rasulullah Saw. Rasulullah mampu mengislamkan masyarakat secara kepemimpinan walaupun hidup ditengah sekularisme. Pemimpin tidak dibuat kawan. Pemimpin itu dilahirkan, dan kitalah orang-orang yang dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin besar. Ayo kita bermetamorfose dengan berbekal ilmu pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Islam itu satu dan sejak dulu diterima oleh masyarakat sekuler !

Minggu, 21 Desember 2008

Dokter Muslim Memandang Manusia

Astri Sulastri Prasasti
Mahasiswi Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Indonesia
UII
Tahun 2008


Manusia adalah salah satu bentuk kebesaran Allah SWT yang didalam dirinya terdapat banyak keajaiban yang bahkan sulit ditembus oleh pikiran manusia itu sendiri. Penyusun tubuh manusia begitu kompleks pada setiap bagiannya sehingga menjadikan manusia memiliki keindahan bentuk dan rupa (QS. At Taghaabun : 3)

“Dialah yang menciptakan seluruh langit dan bumi dengan haq dan memberi kepadamu bentuk yang sangat elok.”

Konsep manusia yang utuh adalah apabila manusia telah dapat memanfaatkan secara maksimal semua yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT, dalam bentuk jasmani dan rohani dengan melakukan aktualisasi diri yang puncaknya adalah sebuah pengalaman spiritual. Aktualisasi adalah pencapaian tertinggi yang harus dilalui oleh manusia secara utuh dengan menjalani langkah demi langkah kehidupan di bumi. Pengalaman spiritual dapat tercapai ketika manusia sudah dapat menyeimbangkan pemanfaatan anugerah jasmani dan rohani yang kemudian diwujudkan dalam bentuk aktualisasi diri melalui kreativitas, kematangan intuisi, keagungan akal dan lain-lain yang secara umum merupakan tindakan dan sikap positif yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, manusia akan dapat mengetahui apa saja potensi dan kelemahan yang ada dalam dirinya.
Pemanfaatan anugerah Allah SWT dapat dilakukan dengan menggunakan anugerah tersebut yang dalam hal ini dalam bentuk jasmani dan rohani sesuai dengan fungsi yang telah diberikan secara maksimal serta menjaga keberfungsiannya. Memanfaatkan anugerah dalam bentuk jasmani dapat dilakuakn dengan menjaga kesehatan dan menggunakannya untuk selalu mengabdi kepada Allah SWT dalam bentuk kegiatan apa pun. Sedangkan pemanfaatan rohani dapat dilakukan dengan memeberi siraman-siraman keagamaan yang menyejukkan. Nikmat rohani pada dasarnya terdiri atas akal yang haus akan pengetahuan, qalbu yang selalu meniupkan kebenaran agama, roh yang mampu menggerakkan jasad manusia dan nafsu yang mempengaruhi setiap tindakan manusia. Maka, pemanfaatan rohani tidak lain adalah dengan menggunakannya sebaik mungkin di jalan Allah SWT serta memberikan asupan sesuai dengan kebutuhan penyusunnya baik itu dengan belajar dan beribadah.
Mengenal diri berarti mengenal Tuhan, ungkapan yang dramatis namun memang benar adanya. Mengenal diri tidak hanya sebatas mengenal apa kelebihan dan kekurangan yang dimiliki tetapi juga memahami apa peran manusia di bumi ini. Tujuan utama diciptakannya manusia adalah untuk senantiasa beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Adz Zariyat : 56 ;

“Tidak Ku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka mengabdi kepadaKu.”

Ayat ini semakin mempertegas kedudukan manusia sebagai hamba yang harus selalu tunduk dan patuh kepada Tuhannya. Ketertundukan dan kepatuhan manusia diwujudkan dalam ketakwaannya kepada Allah SWT yang senantiasa menjadikan ibadah sebagai dasar dalam setiap sikap dan perbuatan sehari-hari. Selain sebagai hamba Allah SWT, manusia di bumi juga memiliki peran sebagai seorang khalifah. Khalifah berasal dari khalafa `yakhilu khilafatan yang berarti penerus, namun oleh manusia diidentikkan dengan pemimpin. Padahal secara bahasa penerus dan pemimpin memiliki arti yang berbeda satu sama lain. Maksud dari manusia sebagai khalifah hakikinya adalah manusia dilahirkan ke bumi untuk meneruskan agama Allah SWT yang tidak lain bertujuan untuk selalu mengabdi kepada Allah SWT. Sedangkan manusia sebagai khalifah versi manusia itu sendiri lebih ditekankan pada kebebasan untuk mengeksploitasi alam yang kedudukannya sangat dekat dengan kekuasaan, hal ini berkaitan erat dengan keegoisan manusia yang memang sering disilaukan oleh kehidupan dunia yang hanya sementara. Padahal kehidupan sesungguhnya ada setelah manusia mengalami kematian, yaitu kehidupan di akhirat, dalam QS. Faathir : 5

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu.”

Setelah mengetahui kedudukan dan peran manusia maka secara otomatis manusia akan mengetahui bahwa sesungguhnya ada yang Maha Penguasa dan Maha Pencipta yaitu Allah SWT, pada tahap inilah manusia dikatakan telah mencapai pengalaman spiritual sebagai tujuan puncak dari aktualisasi diri. Untuk senantiasa menjaga dan memperdalam pengalaman spiritual hendaknya manusia selalu menjaga keimanan yang telah dimiliki, mencari ketenangan batin yang kemudian menghantarkan pada meditasi sebagai mahluk Allah SWT dengan bertafakkur dan merenung, membersihkan diri dari perbuatan-perbuatan buruk, senantiasa beramal dan bersyukur sebagai modal dalam upaya membersihkan hati, serta yang terakhir selalu berserah diri kepada Allah SWT seperti layaknya seorang hamba pada Tuhannya.
Hal lain yang patut diketahui untuk menegakkan tujuan penciptaan manusia adalah hakikat awal dan akhir kehidupan. Hakikat awal kehidupan manusia dimulai sejak Allah SWT meniupkan roh kepada bakal calon manusia yang terlebih dahulu memberikan kesaksian ketuhanannya kepada Allah SWT. Perjalanan panjang yang dialami oleh manusia ada dalam QS. Al Mu`minuun : 12-14

Sungguh telah Kami ciptakan manusia dari inti tanah. Kemudian Kami jadikan dia sebagai mani di dalam simpanan wadah yang aman (rahim). Lalu Kami jadikan mani itu sebagai al-`alaq (sesuatu yang menempel), dari itu Kami jadikan segumpal daging, kemudian Kami jadikan kerangka tulang dan akhirnya Kami bungkus tulang itu dengan daging lalu Kami tumbuhkan dalam penampilan yang beda. Allah Maha Berkah, Dia sebaik-baiknya pencipta.

Ayat tersebut menegaskan bahwa manusia mengalami proses penuh keajaiban hingga menjadi mahluk unik yang berbeda satu dengan lainnya. Manusia memperoleh makanan dari tumbuhan yang hidup dengan mengambil air dan mineral yang berasal dari tanah. Kemudian dengan makanan tersebut manusia dapat hidup dan menghasilkan keturunan, sehingga dalam surat diatas dikatakan bahwa manusia berasal dari sari pati tanah.
Kemudian muncul pertanyaan, apa implikasi dengan profesi dokter setelah mengetahui konsep dan hakikat kehidupan manusia ?
Seorang dokter, khususnya dokter muslim sangat perlu memahami konsep-konsep dasar manusia mulai dari proses penciptaan, hakikat, hingga peran dan kedudukan manusia yang telah duraikan sebelumnya. Dokter muslim sesungguhnya bukan merupakan gelar khusus yang diberikan kepada dokter beragama Islam. Tetapi lebih kepada pilihan apakah syariat-syariat Islam akan digunakan dalam praktik kerja sehari-hari. Dokter muslim adalah sebuah fitrah bagi seorang dokter beragama Islam sama seperti fitrah manusia di bumi sebagai mahluk Allah SWT, sehingga memang tidak dapat dipisahkan dan bukan merupakan titel semata. Dengan memahami konsep-konsep dasar manusia maka seorang dokter muslim dapat menetukan bagaimana ia akan memandang dan memperlakukan pasien. Dokter muslim harus memiliki human arts yang dibutuhkan dalam menempatkan posisi pasien sebagai rekan sejajar yang memiliki nilai-nilai khusus yang disebut sebagi patient value yang wajib dijaga dan dihormati. Patient value ini akan sangat berdampak pada kondisi pasien selanjutnya, karena banyak penelitian yang menyebutkan bahwa keadaan psikis pasien memberi pengaruh yang signifikan terhadap kesembuhan pasien yang juga berasal dari dokter yang merawatnya. Kemudian disinilah syariat islam dimainkan, yaitu sebagai dasar segala tindakan yang diberikan kepada pasien untuk mendukung dan memperbaiki nilai-nilai yang ada dalam diri pasien. Apabila hal ini dapat dijalankan dengan baik maka sesunggunya dokter-dokter muslim benar-benar terlahir tidak hanya dalam wacana semata tetapi juga teralisasi dalam kehidupan medis dunia kedokteran yang dapat memberikan pencerahan bagi masyarakat luas.

Rabu, 10 Desember 2008

EBM, Pentingkah ?



Astri Sulastri Prasasti
Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Indonesia
UII
2008


Evidence Based Medicine (EBM) atau kedokteran berbasis bukti adalah pendekatan secara sistematik yang didasarkan bukti ilmiah atau hasil riset terpercaya (best research evidence) dengan keahlian klinis (clinical expertise) yang diberi penilaian dari masyarakat atau pasien (patient values) yang digunakan untuk membantu memberikan informasi klinik. Perkembangan pemikiran manusia yang pada akhirnya melahirkan kemajuan teknologi informasi ternyata juga berpengaruh dalam dunia kedokteran. Dahulu, para dokter umumnya melakukan pendekatan abdikasi (didasarkan pada rekomendasi yang diberikan klinisi senior, supervisor, konsulen, maupun dokter ahli) atau induksi (didasarkan pada pengalaman diri sendiri) dalam menetapkan jenis intervensi pengobatan. Namun kini, kedua pendekatan itu telah diganti dengan pendekatan EBM, yaitu berdasarkan rise-riset ilmiah yang terpercaya, valid dan reliable. Tiga kunci utama EBM yang lebih terperinci adalah sebagai berikut :
1. Best Research Evidence
Bukti-bukti ilmiah yang digunakan harus berasal dari sumber-sumber dan studi yang dilakukan dengan metodologi yang sangat terpercaya (khususnya randomized controlled trial [RCT]). Studi yang dimaksud juga harus valid dan reliable sehingga dapat dijadikan dasar yang kuat dalam setiap pengambilan keputusan.
2. Clinical Expertise
Dalam melakukan atau menilai EBM juga perlu melihat apakah orang-orang tersebut telah benar-benar ahli dan sesuai dengan bidangnya, karena hal itu akan berpengaruh kepada kualitas informasi yang diperoleh.
3. Patient Values
Setiap pasien pasti memiliki harapan dan nilai-nilai unik mengenai status kesehatan yang dimilikinya. Maka dalam menerapkan keputusan yang telah diperoleh pada proses sebelumnya tadi diperlukan human arts seorang dokter yang menempatkan pasien sebagai teman sejajar serta bertindak kooperatif untuk menumbuhkan nilai-nilai positif dalam diri pasien. Banyak bukti yang menyebutkan bahwa betapa besar pengaruh sebuah harapan positif pasien pada tingkat kesehatannya.
Selanjutnya yang perlu diperhatikan dalam penerapan EBM ini adalah langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan. Langkah-langkah tersebut dibagi menjadi lima tahapan, yaitu :
a. Identifikasi dan Formulasi
Tahap awal yang dilakukan adalah mengidentifikasi dan memformulasikan masalah yang sedang dihadapi dengan membuat pertanyaan-pertanyaan yang sesuai. Pertanyaan tersebut harus memenuhi tiga kriteria yaitu focus, relevance, dan searchable. Pertanyaan yang diajukan dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu background question (pertanyaan yang mengacu pada latar belakang dan masa lalu pasien) dan foreground question (pertanyaan berdasarkan keadaan sekarang atau yang sedang dialami pasien). Namun, dalam tahap identifikasi ini pertanyaa lebih terfokus pada jenis foreground question dengan menggunakan teknik PICO (patient, intervention, comparison dan outcome). Maksud dari teknik PICO itu sendiri adalah :
 Patient
Usia, keadaan, dan masalah yang sedang dialami oleh pasien
 Intervention
Etiologi, pengobatan dan faktor prognosis pasien
 Comparison
Perbandingan dari intervensi yang telah atau akan dilakukan
 Outcome
Berdasarkan waktu terjangkitnya suatu penyakit dan tingkat keparahan yang dialami.
b. Penelusuran
Setelah masalah telah teridentifikasi dengan baik dan didapatkan rumusan yang jelas , maka selanjutnya dilakukan pencarian yang merujuk pada sumber-sumber yang dapat dipercaya. Hal yang perlu dipertimbangkan dalam pencarian sumber adalah waktu keluarannya. Studi-studi yang sudah tua dan bersifat kuno tidak lagi dapat digunakan, karena tidak sesuai dengan perkembangan yang ada. Oleh karena itu lebih disarankan untuk mencari informasi baru yang lebih tepat digunakan saat ini.
c. Kajian kritis
Langkah berikutnya yaitu melakukan kajian kritis terhadap bukti-bukti yang telah diperoleh melalui penelusuran ketat. Kajian kritis harus dilakukan secara obyektif tanpa ada faktor kepentingan didalamnya. Selain itu, harus dilakukan dengan sistematis yang didasarkan pada pedoman-pedoman yang jelas yang kemudian dinilai tingkat validitas, hasil dan manfaat yang dapat diperoleh oleh pasien.
d. Penerapan dan Evaluasi
Pada tahap ini, informasi yang paling tepat yang telah diambil kemudian di terapkan pada diri pasien. Lalu dimonitor dengan teliti bagaimana hasil yang diperoleh dari segi perkembangan secara medis maupun kedaan secara umum.
e. Komunikasi
Langkah terakhir yaitu komunikasikan kepada pasien dengan jelas. Agar tidak terjadi kesalahan untuk menentukan langkah pengobatan yang akan dilakukan selanjutnya apabila diperlukan.

Pemikiran kritis sangat diperlukan dalam melakukan pendekatan EBM. Pemikiran kritis tersebut dilakukan dengan melakukan penilaian atau critical appraisal. Critical appraisal adalah penilaian terhadap bukti-bukti yang diperoleh yang dilakukan secara sistematik dan dengan seobyektif mungkin. Critical appraisal sangat dibutuhkan karena informasi yang didapat tidak selalu reliable, tidak selalu valid dan merupakan cara untuk mengefektifkan tindakan pengobatan. Dasar-dasar yang digunakan dalam melakukan critical appraisal yaitu apakah informasi tersbut penting dan memiliki tingkat validitas tinggi, apakah hasilnya itu akan signifikan dan terakhir apakah dapat diterapkan kepada pasien dengan terlebih dahulu menimbang kondisi serta keadaan pasien baik dari segi fisik, mental, emosional maupun ekonomi. Dalam penerapannya perlu juga dilihat manfaat dan efek yang nantinya akan diterima oleh pasien.
Dasar-dasar tadi kemudian digunakan untuk menentukan tindakan-tindakan apa saja yang akan dilakukan pada tahap diagnosis, prognosis, terapi dan etiologi. Pada tahap diagnosis, tindakan yang dilakukan harus sesuai dengan parameter yang ada atau sesuai dengan gold standard. Setiap kejadian memiliki gold standard atau standar baku yang telah teruji dan dapat dijadikan sebagai pedoman. Sedangkan pada tahap prognosis dilihat ramalan kejadian akhir penyakit yang akan dialami oleh pasien. Tahap selanjutnya yaitu tahap terapi atau pengobatan yang dapat dilakukan dengan melakukan operasi, pengobatan biasa dan pengobatan secara tradisional. Kemudian puncaknya tahap etiologi, yaitu tahap pemonitoran hasil dari semua proses pengobatan yang telah dilakukan.
Dari penjelasan yang ada diperoleh betapa EBM penting dalam pengambilan keputusan untuk menentukan tindakan yang harus diambil yang berkaitan langsung dengan nyawa pasien. EBM diperlukan untuk mengidentifikasi kondisi pasien dengan cepat, dan tepat. Dengan begitu, resiko-resiko buruk yang kemungkinan dialami pada proses pengobatan diharapkan berkurang serta dapat teratasi dengan baik. Satu hal yang ditekankan disini adalah dokter atau siapa pun yang berkecimpung di dunia kedokteran harus selektif dan mengerti mengenai metode-metode yang harus ditempuh yang dapat dijadikan pedoman dalam betindak. Agar kesalahan-kesalahan yang selama ini terjadi dan sering menjadi perdebatan tidak terulang, karena pada akhirnya akan memperburuk citra kedokteran di masyarakat.

Selasa, 25 November 2008

Human As The Lifelong Learner

Astri Sulastri Prasasti
Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Indonesia
UII
Tahun 2008



PENDAHULUAN

Dunia terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Teknologi buatan manusia mewabah membawa perubahan besar pada semua ranah kehidupan. Pendidikan yang juga merupakan aset berharga yang dimiliki oleh manusia terus berkembang dan memunculkan paradigma baru dalam pentingnya menuntut ilmu. Waktu, pendidikan, pikiran manusia, teknologi, dan peradaban berjalan sejajar beriringan. Demikian juga aspeknya di dunia usaha kerja. Munculnya mesin-mesin dan robot otomatis membuat lapangan kerja yang dibutuhkan manusia semakin berkurang, padahal keharusan memiliki sebuah pegangan penghidupan semakin meningkat. Paradigma yang kini terjadi mempertegas kodrat dan kewajiban manusia untuk belajar atau human as the lifelong learner. Perdana Menteri Tony Blair (dalam Colin dan Malcolm, 2002) menyatakan :

Kita tidak boleh lupa bahwa pendidikan bukan hanya kejadian sekali saja bagi seseorang yang berumur dibawah 18 tahun. Konsensus baru harus didasarkan pada akses yang luas terhadap pendidikan tinggi dan peluang berkesinambungan bagi setiap orang dewasa untuk belajar.

Dalam Islam, kedudukan ilmu sangat tinggi. Kewajiban untuk menuntut ilmu didasarkan pada kodrat manusia untuk selalu mengabdi kepada Allah SWT. Menuntut ilmu merupakan salah satu bentuk pengabdian paling nyata kepada Allah SWT. Dalam QS. Adz Dzariat : 56 disebutkan bahwa “Dan Aku tidak ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. Maka jelas menjadi seorang lifelong learner bukanlah sebuah keharusan melainkan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Sama dengan kebutuhan primer lain manusia seperti makan dan minum. Tanpa ilmu yang berkembang, eksistensi manusia sebagai khalifah di muka bumi akan terlibas zaman.


ISI

Dasar
Human as the lifelong learner mengandung konsep bahwa manusia selalu menjalani proses belajar selama hidup (lifelong learning), hingga manusia disebut sebagai mesin belajar. Proses belajar memberikan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan yang diperlukan untuk menjalani hidup. Dasar utama manusia menjalani fungsi sebagai mesin belajar yaitu adanya perubahan dan kodrat alami manusia. Perubahan terjadi sangat cepat meliputi seluruh aspek kehidupan mulai dari pola pikir manusia, kebutuhan, teknologi, tingkat ekonomi, bahkan peraturan dan gaya hidup masyarakat. Dengan adanya perubahan besar-besaran itu manusia dituntut untuk bisa mengikuti dan menyesuaikan diri. Lifelong learning adalah suatu sikap dan bentuk kebiasaan yang nantinya akan menentukan kesuksesan hidup setiap orang. Adanya perubahan ini merupakan tahap terbaik karena tidak akan ada proses belajar tanpa ada perubahan. Dasar utama kedua yaitu kodrat alami manusia untuk selalu mengabdi kepada Allah SWT. Belajar merupakan salah satu bentuk pengabdian yang nyata. Dengan belajar manusia menggunakan akal yang dimanfaatkan untuk mengeksplorasi sumber daya yang tersedia. Pengeksplorasian bermanfaat bagi kehidupan bumi merupakan bentuk pengabdian kepada Allah SWT terkait kewajiban manusia sebagai khalifah, terlebih jika ilmu diimbangi dengan keimanan dan ketakwaan yang terus bertambah. Seperti yang diungkapkan dalam QS. Faathir : 39 yang artinya :

Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi. Barang siapa yang kufur, akibatnya ditanggung sendiri. Kekufuran seorang yang ingkar hanya akan menambah murka Tuhannya. Kekufuran seorang yang ingkar hanya akan menambah kerugian yang besar baginya.

Pada ayat diatas disebutkan agar manusia tidak mengkufuri nikmat Allah. Selain pengabdian, belajar juga merupakan salah satu bukti syukur kepada Allah yaitu dengan memanfaatkan potensi diri berupa akal dan pikiran untuk belajar.


Bagaimana menjadi lifelong learner sejati ?
Banyak alasan melatarbelakangi manusia menjalani lifelong learning. Perkembangan ilmu dan teknologi yang cepat mengakibatkan bertambahnya kebutuhan pendidikan mulai dari sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama, sekolah lanjutan tingkat atas hingga perguruan tinggi. Meningkatnya kebutuhan akan pendidikan mengakibatkan terjadinya pergeseran kebutuhan tenaga kerja mengenai standar kemampuan yang dimiliki. Untuk meningkatkan kemampuan tersebut dibutuhkan peran aktif yang menurut Steinbach (2002) dapat diwujudkan dengan menerapkan ASK, yaitu :
Actively Seek Knowledge (aktif memburu pengetahuan)
Always Seek Knowledge (selalu memburu pengetahuan)
Assertively Seek Knowledge (asertif memburu pengetahuan)
Aggressively Seek Knowledge (agresif memburu pengetahuan)

Perkembangan teknologi termasuk didalamnya teknologi informasi menjadikan penyebaran informasi semakin bebas. Selanjutnya menurut Hancock (2007) para pelajar diharuskan untuk berperan aktif dalam mengelola informasi yang ada yaitu dengan mencari banyak informasi dari berbagai media, mengomunikasikannya agar informasi tersebut mudah dimengerti, mengajukan pertanyaan berhubungan dengan informasi yang didapat, memaksimalkan sumber belajar tidak hanya di sekolah tetapi juga di lingkungan bermain dan tempat tinggal, merefleksikan apa yang telah dipelajari, yang terakhir bertanggung jawab atas informasi yang telah diperoleh.
Hal lain yang harus dimiliki oleh seorang lifelong learner yaitu adanya motivasi, adannya tujuan yang jelas, sebuah visualisasi pencapaian dan perayaan atas prestasi. Secara sederhana hubungan antara ketiga hal tersebut yaitu manusia harus memiliki motivasi yang mendorong tindakan mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan. Namun dengan motivasi saja usaha tidak akan maksimal, oleh karena itu manusia juga harus melakukan visualisasi pencapaian agar semangat belajar semakin terpompa. Setelah mengerahkan semua daya yang dimiliki, menjadi sangat perlu melakukan perayaan kecil atas setiap prestasi yang telah berhasil kita capai. Hal ini dimaksudkan agar semangat yang ada kembali tumbuh dan terstimulasi untuk kembali meraih kesuksesan.
Colin dan Malcolm (2002) menyebutkan bahwa untuk menumbuhkan semangat kita perlu memikirkan Apa Gunanya Bagiku (AGB). AGB merupakan langkah penting yang pertama harus diketahui oleh seorang pelajar. Tanpa ada alasan positif mengapa kita mempelajari sesuatu maka informasi yang disampaikan akan lebih sulit untuk dicerna. Setelah mengetahui AGB, langkah selanjutnya adalah membuat daftar sukses yang akan dicapai dalam proses belajar. Lalu berikan penegasan terhadap tujuan yang telah disusun dalam daftar sukses tersebut. Penegasan dibutuhkan untuk menumbuhkan sikap positif yang dapat memberikan energi positif kepada pikiran pada proses belajar.
Banyak langkah yang dapat ditempuh agar kegiatan lifelong learning menjadi lebih menyenangkan. Setiap orang memiliki gaya dan cara pandang yang berbeda agar hasil belajar yang diperoleh lebih optimal. Oleh karena itu, gaya belajar perlu dikembangkan dengan baik.

Ciri-ciri Lifelong Learner
Ilmu yang dimiliki oleh seseorang akan tercermin dalam sikap dan perbuatannya, begitu juga lifelong learner sejati. Menurut Eikenberry (2007) ada beberapa karekteristik yang secara umum dimiliki oleh lifelong learner yaitu :
1. Memiliki pola pikir yang tertata. Dalam melakukan kegiatan termasuk belajar kita harus memiliki pikiran seperti seorang ahli. Pikiran tersebut akan memberi peluang besar untuk menguasai ilmu pengetahuan.
2. Membuat hubungan. Agar pengetahuan dapat berkembang maka diperlukan penguasaan pembuatan hubungan antara informasi yang satu dengan yang lain.
3. Fleksibel dan dapat beradaptasi dengan baik. Belajar adalah akibat adanya perubahan, lifelong learner harus dapat beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi.
4. Selalu mempelajari sesuatu. Lifelong learner menyamakan otaknya dengan otot yang harus terus dilatih setiap hari secara rutin.
5. Penuh rasa keingintahuan. Satu dari banyak pertanyaan menakjubkan yang sering dilontarkan oleh seorang lifelong learner adalah `mengapa`. Pertanyaan ini menggambarkan rasa keingintahuan yang besar.
6. Belajar dengan banyak cara. Ada banyak cara yang dapat ditempuh untuk melakukan proses belajar. Namun yang terbaik adalah memadukan berbagai langkah misalnya saja dengan memaksimalkan membaca, mendengar dan berbicara bahkan praktek.
7. Menjadi sumber ilmu. Ada banyak hal yang dapat diperoleh dengan menjadi sumber ilmu. Selain pemahaman lebih mendalam, ilmu pengetahuan yang dimiliki semakin terasah.

Disamping itu, tujuh karakter seorang lifelong learner lebih singkat diungkapkan oleh Smith (2007) yaitu :
1. Memiliki pengetahuan dengan pemahaman mendalam
2. Pemikir kompleks
3. Orang yang kreatif
4. Aktif dalam mencari informasi
5. Pembicara efektif
6. Berpartisipasi dalam berbagai kegiatan
7. Pembelajar sendiri yang ulung

Manfaat
Sebenarnya penjelasan rinci mengenai manfaat dari proses belajar tidak diperlukan lagi. Manfaat itu dengan sendirinya akan dirasakan baik oleh pemiliknya sendiri, orang lain bahkan masyarakat secara luas. Orang yang terus menggali ilmu hingga pengetahuannya senantiasa bertambah dari waktu ke waktu akan memperoleh karir dengan prospek gemilang. Meskipun dunia kerja berubah namun dengan ilmu yang terus berkembang tidak akan ada kesulitan untuk beradaptasi dan mengembangkan kemampuan individu baru yang lebih diperlukan. Setelah karir, kemajuan ekonomi yang baik selanjutnya akan mengikuti. Begitu juga dari aspek sosial yang dianggap sebagai sumber ilmu bagi orang lain, secara tidak langsung akan menimbulkan citra diri positif di kalangan masyarakat. Sebagaimana telah diungkapkan Colin dan Malcolm (2002) bahwa kualitas pembelajaran dan kualitas pemikiran kita akan menghasilkan kualitas kehidupan secara langsung. Orang yang berilmu akan memiliki pengetahuan yang luas sehingga dapat melebarkan kariernya dimana saja atau dengan kata lain menjadi orang yang inovatif.
Manfaat lain yang diperoleh dengan menjadi seorang lifelong learner adalah mendapat keridhaan Allah SWT karena telah menjalankan fungsi sebagai khalifah di bumi. Melakukan pengabdian dan pemanfaatan nikmat akal yang telah dianugerahkan Allah SWT yang sejatinya dibarengi dengan keimanan dan ketakwaan yang meningkat akan membawa manusia mendapatkan kebahagiaan akhirat yang merupakan tujuan akhir dari semua proses belajar. Hanya kepada Allah manusia akan kembali, firman Allah dalam QS. Ali Imran : 145 yang artinya

Tidak seorangpun akan mati kecuali dengan seizin Allah, suatu ketentuan yang terencana. Siapa yang menghendaki pahala dunia Kami akan memberinya. Dan siapa yang menghendaki pahala akhirat Kami akan memberinya. Kami pasti membalas orang-orang yang bersyukur.

So, How then?
Setelah mengetahui langkah-langkah yang diperlukan untuk menjalani misi lifelong learning serta mengetahui karakteristik dan manfaatnya bagi kehidupan manusia, kemudian yang harus dilakukan adalah praktek. Tanpa ada praktek semua ilmu dan pengetahuan akan sia-sia. Gunakan ilmu atau hilang sama sekali dan dengan begitu kita tidak layak disebut sebagai manusia tanpa menjalankan kewajiban dan kodrat seorang manusia untuk belajar. Mulai praktek itu sekarang, disini dan dari diri sendiri. Mempraktekan pengetahuan akan menjadi sama mengasikannya seperti saat mencari dan menyusunnya menjadi suatu informasi yang utuh. Belajar tidak hanya dilakukan pada pendidikan formal semata, pendidikan tidak hanya didapat di bangku sekolah, pendidikan tidak hanya berasal dari guru, Lifelong learning memiliki cakupan lebih luas. Bagaimana dapat memanfaatkan lingkungan untuk belajar semaksimal mungkin dan bagaimana belajar untuk selalu menggali informasi yang bermanfaat untuk mengembangkan diri sehingga dapat bertahan di dunia global seperti sekarang adalah esensi sesungguhnya pada proses lifelong learning.




SIMPULAN

Menjadi lifelong learner bukan hal yang mudah tetapi juga bukan beban yang memberatkan. Seharusnya lifelong learning tidak lagi dipandang sebagai sebuah kewajiban dan keharusan yang mengikat. Tetapi lebih dipandang sebagai kebutuhan pokok dalam hidup yang tanpanya hidup tidak akan berjalan dengan baik. Kemudian proses belajar yang dijalani sudah semestinya direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari dengan membawa pencerahan bagi orang lain, keluarga serta masyarakat luas. Dampak utama dengan terus menerus menggali ilmu pengetahuan yaitu meningkatnya keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT seperti yang dituangkan dalam QS Al Fatiir : 28, “Hanyalah yang takut kepada Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya ini adalah orang-orang yang berilmu”
Kunci dari proses lifelong learning adalah menaklukan teknologi informasi dengan begitu dunia telah ada dalam genggaman. Menaklukan dunia dengan ilmu yang terus berkembang akan membawa manfaat besar bagi peradaban manusia selanjutnya. Terakhir, praktekan ilmu itu sekarang juga.

Menjadi Seorang Life Long Learner

Astri Sulastri Prasasti
Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Indonesia
UII
Tahun 20
08


Berbagai perubahan terjadi seiring dengan berjalannya waktu. Termasuk pola pikir manusia dan ilmu-ilmu yang berhasil ditemukannya. Ilmu, waktu dan kemajuan pikiran manusia berbanding lurus. Itulah salah satu alasan yang mengharuskan manusia untuk selalu belajar sepanjang hayat atau dengan kata lain Human as The Life Long Learner. Selain tuntutan zaman, belajar sepanjang hayat juga merupakan tuntutan agama. Karena menuntut ilmu adalah salah satu bentuk pengabdian kepada Allah yang merupakan tujuan penciptaan manusia di muka bumi ini. Hal tersebut tertuang dalam surat Adz Dzariat : 56, yang artinya
“Dan Aku tidak ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”

Selain itu menuntut ilmu juga merupakan bentuk syukur kepada Allah atas segala potensi yang dimiliki yaitu dengan memanfaatkan dan mengembangkannya. Maka sudah sangat jelas manusia memang diberi kewajiban untuk selalu menuntut ilmu sepanjang hayat. Ada banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh baik dunia maupun akhirat. Menjadi seorang Life Long Learner bukanlah suatu hal yang sulit tetapi bukan juga suatu beban yang memberatkan. Sesungguhnya belajar adalah hal yang sederhana dengan berbagai strategi dan langkah-langkah jitu yang dapat ditempuh. Be the Life Long Learner ? Why not .

Tentang Ilmu
Ilmu terus berubah, bersifat dinamis tidak terbatas ruang dan waktu. Hanya saja ada ilmu yang mampu ditembus oleh pikiran manusia dan ada yang tidak karena sesungguhnya yang memiliki keterbatasan adalah manusia itu sendiri. Selama terjadi perubahan dalam kehidupan berarti pikiran manusia juga terus mengalami kemajuan sehingga ilmu yang ada pun semakin banyak dan berkembang tiada henti. Colin dan Malcolm (2002) menyatakan saat dunia telah berubah, kita harus terus mengikutinya, sehingga kebutuhan belajar atau mencari ilmu bukan hanya rutinitas yang dilakukan oleh manusia dari umur 5 tahun sampai 25 tahun, lalu mapan.
Ilmu akan selalu bermanfaat dalam setiap aspek mencangkup semua ranah kehidupan sepanjang hayat manusia. Orang yang berilmu akan membawa manfaat baik bagi dirinya sendiri dengan menjanjikan masa depan dan karier yang gemilang juga bagi orang disekitarnya bahkan masyarakat secara luas.

Prinsip Belajar Sepanjang Hayat
Selama proses panjang sebuah pembelajaran pasti akan sangat banyak masalah dan hambatan yang ditemui. Entah itu berasal dari diri sendiri (internal) berupa rasa malas, low motivation dan lain-lain, maupaun yang berasal dari ruang di sekitar kita (eksternal) yaitu orang tua, teman, dan lingkungan bermain. Namun semua masalah dan hambatan tersebut akan menjadi tidak berarti jika seorang life long learner menggunakan prinsip-prinsip belajar yang baik secara sempurna, yang terdiri atas tujuan, motivasi, komitmen dan aksi.
a. Tujuan
Sebelum mempelajari sesuatu, kita harus memiliki tujuan yang jelas, mengapa sesuatu itu harus dan wajib untuk dipelajari. AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku) menjadi pertanyaan wajib di setiap sesi awal pembelajaran. Hal ini disebabkan karena tujuan adalah salah satu alat agar proses pembelajaran tersebut bernilai sehingga penyerapan informasi pun akan semakin mudah. Salah satu faktor yang sama-sama dimiliki oleh orang sukses adalah mereka sama-sama memiliki kemampuan yang luar biasa dengan menggunakan khayalan dan visualisasi dalam menjalankan tugasnya secara sadar, mereka memulainya dengan sebuah tujuan (Colin dan Malcolm,2002)
b. Motivasi
Motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong kita untuk melakukan suatu tidakan termasuk belajar. Motivasi merupakan fondasi awal yang harus dimiliki oleh seorang pembelajar. Tanpa motivasi proses belajar yang memang memakan waktu dan membutuhkan energi ekstra akan terasa sangat memberatkan. Bahkan jiga dipaksakan pada seorang low motivation akan mengakibatkan gengguan fatal baik secara mental maupun sosial. Motivasi sendiri memiliki tiga jenis yang berbeda yang telah diungkapkan Ari dan Roy (2003) yaitu fear motivation (motivasi karena ketakutan), achievement motivation (motivasi untuk mencapai suatu tujuan tertentu) dan inner motivation (motivasi yang berasal dari dalam diri sendiri).
Fear motivation terkadang berpengaruh besar terhadap gaya belajar. Mungkin awalnya dapat berupa keterpaksaan karena ketakuktan terhadap suatu hal tetapi dari sebuah keterpaksaan akan muncul suatu kebiasaan dan keteraturan beripikir. Misalnya saja ada seorang anak yang berusaha belajar dengan tekun karena takut mengecewakan kedua orang tuanya atau seorang ayah yang berkerja dengan sebaik-baiknya karena takut anak istrinya hidup susah dan masih banyak lagi contoh lainnya. Achievement motivation adalah motivasi yang banyak terjadi dan dimiliki oleh semua orang. Adalah hal yang biasa jika setiap orang memiliki visi khusus dalam hidupnya dan secara otomatis dia akan berusaha mendapatkannya, itulah bentuk achievement motivation. Sangat sederhana dan sering dijumpai. Namun dalam jenis motivasi ini sebaiknya diimbangi dengan pikiran realistis agar tujuan yang diidamkan tidak menjadi hal yang mustahil. Motivasi terbaik yang harus dimiliki oleh semua orang adalah inner motivation. Inner motivasioan murni tumbuh dalah batin yang mendorongnya untuk selalu bertindak merujuk pada keinginannya itu. Kekuatan inner motivation biasanya lebih besar daripada motivasi yang lain sehingga dapat bertahan lebih lama.
c. Komitmen
Setelah ada motivasi yang kuat hal kedua yang harus dimiliki adalah sebuah komitmen. Douglas Brown (dalam Ari dan Roy, 2003) mengatakan bahwa pada prinsipnya untuk mencapai kesuksesan belajar seseorang harus memiliki komitmen, yaitu komitmen secara fisik, mental, dan emosional. Menurut Brown, komitmen tersebut dapat diwujudkan dengan menyediakan waktu khusus untuk belajar, terlibat secara fisik dalam mencari bahan pembelajaran, terlibat secara mental dengan memroses informasi yang didapat serta mengaitkannya dengan pengalaman hidup dan terlibat secara emosional melibatkan upaya untuk “menyukai pelajaran yang ingin kita kuasai”. Tanpa rasa senang akan sulit bagi kita untuk bertahan tetap belajar apalagi saat menemui hal sulit untuk dipelajari. Padahal manusia dituntut untuk bertahan selama mungkin berkutat dengan ilmu. Komitmen inilah yang akan menjadi self regulation kita dalam belajar. Tanpa adanya self regulation, motivasi yang ada serta jadwal pembelajaran yang telah disiapkan tidak akan pernah terlaksana
d. Aksi
Prinsip terakhir tidak lain adalah aksi atau praktik. Tujuan menuntut ilmu tidak lain adalah memberikan manfaat baik bagi si pemilikinya maupun bagi orang lain. Agar sebuah ilmu itu bisa bermanfaat perlu adanya praktik dalam kehiduan sehari-hari berdasarkan ilmu-ilmu yang telah dimiliki. Selain dapat memberikan manfaat dengan praktik juga dapat menambah pemahan dan keterampilan kita dalam mengembangkan ilmu. Tanpa praktik lama kelamaan ilmu yang telah kita peroleh akan akan menjadi usang dan terlupakan, sehingga belajar tidak lagi menjadi hal yang bermanfaat.

Langkah-langkah Jitu Seorang Life Long Learner
Disamping memiliki prinsip yang harus selalu ditegakkan, untuk menjadi seorang pembelajar sepanjang hayat ada beberapa langkah jitu yang dapat dijalankan. Memang tidak dapat menjadi satu-satunya cara tetapi mungkin dapat membantu kelancaran proses pembelajaran. Langkah-langkah jitu itu adalah MOMI (Manajemen, Open Mind, dan Teknologi).
Manajemen terdiri dari menajemen diri dan menajemen waktu. Manajemen diri atau yang telah disebutkan diatas self regulation adalah pengaturan diri yang bersifat subyektif dan sangat mempengaruhi belajar, antara lain keaktifan, semangat dan disiplin. Tanpa ada manajemen diri yang baik dalam mencari, menyerap dan memroses informasi belajar yang kita lakukan tidak akan dapat berjalan dengan lancar. Manajeman kedua yaitu manajemen waktu. Manajemen waktu sangat penting karena sifat waktu yang telah dibahas diawal, tidak dapat kembali. Maka sebisa mungkin kita harus memanfaatkan waktu dengan maksimal yaitu dengan menggunakannya seefektif mungkin. Dr. Jan Yager (dalam Anonim) menyatakan bahwa :
Ada tujuh prinsip manajemen waktu yang kreatif yaitu tentukan sasaran, susun skala prioritas, fokuskan pikiran, ciptakan tenggang waktu yang realistis dan lakukan DOIT NOW :
D = Divide (bagi-bagi tugas)
O = Orginize (atur bagaimana melaksanakannya)
I = Ignore (abaikan gangguan)
T = Take (ambil resiko)
N = Now (sekarang harus dijalankan)
O = Opportunity (jangan sia-siakan kesempatan)
W = Watch out (waspada dengan waktu)

Open Mind adalah kemampuan seseorang untuk berani membuka pikiran dengan orang lain yang terkadang memiliki pandangan yang berbeda. Dalam keterbukaan pikiran ini diperlukan kerendahan diri yang dapat bertindak sebagai koreksi atas kesalahan informasi yang kita perolah yang mungkin saja terjadi. Selain itu bermanfaat juga untuk menambah pengetahuan dan cara berpikir kita. Sehingga pengetahuan yang dimiliki semakin luas dan cara pandang kitapun semakin baik dengan berbagai pembanding yang ada.
Teknologi adalah hal yang sangat penting dewasa ini. Bahkan menjadi makanan sehari-hari. Kemajuan teknologi adalah salah satu konsekuensi logis kemajuan pikiran manusia. Dengan adanya teknologi kita akan dapat mengakses berbagai informasi di seluruh Negara di dunia dengan sangat mudah baik itu melalui internet, media komunikasi elektronik maupun media massa. Hingga ada pepatah yang mengatakan “kuasailah teknologi maka dunia ada dalam genggamanmu”. Jadi kunci selanjutnya yang harus dipegang oleh seorang pembelajar seumur hidup adalah menguasai teknologi dengan banyak belajar dan banyak mengakses informasi.

Manfaat Belajar Sepanjang Hayat
Pada awal tadi telah disinggung bahwa belajar sepanjang hayat dapat memberikan banyak manfaat bagi kita baik itu di dunia maupun akhirat. Manfaat di dunia yang dapat langsung kita rasakan ialah meraih kesuksesan baik itu dalam karir dan dalam kehidupan sosial dengan kata lain kualitas hidupnya meningkat. Sebagaimana telah diungkapkan Colin dan Malcolm (2002) bahwa kualitas pembelajaran dan kualitas pemikiran kita akan menghasilkan kualitas kehidupan secara langsung. Orang yang berilmu akan memiliki pengetahuan yang luas sehingga dapat melebarkan kariernya dimana saja dengan kata lain menjadi orang yang inovatif. Dalam kehidupan sosial, orang yang berilmu menjadi panutan dan tempat bertanya bagi orang disekitarnya sehingga dapat memberi manfaat bagi kehidupan orang lain. Selain itu, dengan menuntut ilmu sepanjang hayat kita telah mengoptimalkan potensi yang telah dianugerahkan Allah SWT. Akibat dari pemanfaatan potensi ini adanya citra diri yang positif yang memberikan pencerahan bagi diri sendiri, orang lain dan masyarakat luas.
Manfaat lain yaitu mendapatkan ridha dan pahala dari Allah SWT karena telah menjalankan kewajiban untuk belajar sebagai wujud pengabdian dan syukur kepada Allah. Akhirat adalah kehidupan yang sebenar-benarnya, sehingga semua yang dilakukan di dunia seharusnya juga berorientasi untuk memperoleh kebahagiaan di akhirat, dalam firman Allah yang berarti :
“….. dan hanya kepada Allah lah satu-satunya tempat mu kembali”

Manusia diwajibkan untuk menjadi seorang life long learner yang dapat memberi manfaat bagi dirinya, orang lain dan masyarakat. Menjadi life long learner bukan perkara mudah tetapi juga bukan beban yang memberatkan. Manusia hanya dituntut untuk tetap istiqomah, untuk itu perlu ada prinsip sebagai peraturan dan langkah-langkah jitu untuk menjalaninya. Sehingga tugas sekaligus kodrat belajar ini dapat terlaksana dengan menyenangkan dan tanpa kesulitan berarti. Bahkan akan lebih baik lagi jika ilmu telah benar-benar mendarah daging sehingga bukan lagi menjadi kewajiban akan tetapi berubah menjadi kebutuhan pokok. Kebutuhan yang menuntut untuk selalu dipenuhi dalam setiap hembusan nafas manusia.
Sesunggunya hakikat ilmu kembali kepada pemiliknya sendiri. Alangkah indah jika ilmu yang dimiliki dapat memberi dampak positif yang dapat dilihat dari sikap dan perbuatan mulia dalam kehidupan sehari-hari yang menambah ketakutan serta ketakwaan kepada Allah SWT, seperti yang dituangkan dalam QS Al Fatiir : 28

“ Hanyalah yang takut kepada Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya ini adalah orang-orang yang berilmu”

Jumat, 14 November 2008

Perubahan Paradigma Dokter Mampu Merubah Dunia

Oleh Astri Sulastri Prasasti
Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Indonesia
UII
Yogyakarta


Dokter dalam perjalanan sejarah

Dokter adalah salah satu profesi yang kini banyak diminati orang. Bahkan bisa dibilang menjadi prodi nomer satu hampir di seluruh perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki fakultas kedokteran. Hal ini mengundang perhatian besar, sebenarnya apa motif yang melatarbelakangi paradigma ini. Dokter dianggap memiliki pengetahuan yang lebih di semua bidang, dan masyarakat menilai hidup seorang dokter lebih terjamin dibandingkan dengan profesi yang lain. Padahal pada hakikatnya yang membuat keterjaminan itu adalah ilmu yang dimiliki bukan karena profesinya . Sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah SWT yang artinya

Allah akan mengangkat derajat orang – orang yang berilmu

Firman Allah diatas tidak lain janji Allah terhadap hidup orang-orang yang berilmu. Bukan hanya dikhususkan kepada profesi dokter. Janji Allah tidak dapat terelakkan dan hanya Allah yang tau akan dalam bentuk apa realisasi janji tersebut. Jadi salah besar bila salama ini masyarakat hanya mengukur dokter dari sisi ekonomi saja. Namun perlahan pandangan ini mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan yang mendasar berasal dari mahasiswa kedokteran itu sendiri. Menjalani pendidikan dokter perlahan meniupkan angin pengabdian kepada masyarakat secara mendalam. Dokter bukan lagi menjadi profesi yang prestisius tetapi lebih dari itu yaitu seorang pengabdi dan pelayan masyarakat. Sebagai pengabdi dan pelayan masyarakat jiwa kemanusiaan seorang dokter dituntut untuk ikut merasakan penderitaan dan kesakitan yang dialami oleh masyarakat. Selain itu dokter juga memiliki tanggung jawab besar untuk ikut menjaga keberlangsungan hidup orang banyak dari segi kesehatan. Sungguh bukan pekerjaan mudah. Profesi dokter bukan hanya sekedar profesi karena titel yang disandang tetapi lebih kepada penghargaan dan kepercayaan yang diberikan oleh Allah serta khalayak untuk berjuang membangun masyarakat sehat baik jasmani maupun rohani. Oleh karena itu sudah sepantasnya mahasiswa kedokteran berperan aktif melalui berbagai wadah dalam rangka mewujudkan isyarat alamiah yang ada di bahu nya.
Sejarah telah membuktikan bahwa dokter memang memiliki andil besar dalam usaha perbaikan nasib masyarakat, salah satunya ialah melalui organisasi pemuda pertama Budi Utomo yang digagas oleh dr. Sudiro Husodo yang kemudian diimplementasikan oleh dr. Sutomo dan rekan dokter yang lain pada tanggal 20 Mei 1908. Lahirnya organisasi pemuda pertama ini dianggap sebagai tonggak awal perjuangan pada masa itu sehingga kini dikenal sebagai hari Kebangkitan Nasional. Hari Kebangkitan Nasional memiliki arti penting yang ditekankan kepada para pejuang muda, termasuk mahasiswa kedokteran. Sejak dulu, dokter telah diperkenalkan kepada dunia luar melalui perjuangan dan rasa kemanusiaan yang tinggi. Profesi dokter menjadi dasar perjuangan karena dianggap memiliki nilai kesetaraan dalam pelaksanaan tugasnya yang menghapuskan jiwa jajahan pada masyarakat. Pekerjaan yang digeluti seorang dokter terlepas dari agama, ras, budaya, politik bahkan ekonomi sekalipun. Karena kesetaraan itulah seorang dokter harus mampu mendekatkan diri dengan masyarakat serta lingkungan luar dalam misi kemanusiaan dengan memegang semangat kebangsaan serta nasionalisme yang tinggi.

Lahirnya IMKI sebagai zygot ISMKI
Wujud pengaplikasian semangat kebangsaan serta nasionalisme tinggi dari mahasiswa kedokteran pada tahun 1969 dibentuklah Ikatan Mahasiswa Kedokteran Indonesia (IMKI) melalui deklrasi Cimacan. Pada deklarasi itu juga berhasil terpilih ketua IMKI pertama, Biran Arifin. Selain itu yang melatarbelakangi pembentukan IMKI ialah kembalinya mahasiswa ke kampus pada era pasca 1966 yang mendorong lahirnya tuntutan zaman akan profesionalisme dari lingkungan yang didominasi oleh teknorat. Ditambah lagi dikirimnya beberapa mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yaitu Biran Affandi, Razak, Azrul Azwar, Widiapati, dan Ichsan Utama ke kongres ARMSA (Asian Regional Medical Students Association) sekarang bernama AMSA, Asian Medical Students Association juga turut menjadi pemicu untuk terbentuknya organisasi sejenis di Indonesia. Kemudian hal ini mendapat respon positif dari mahasiswa kedokteran saat itu untuk melakukan konsolidasi antar fakultas-fakultas kedokteran membentuk suatu wadah yang dapat menyatukan aspirasi mereka dalam rangka peningkatan profesionalisme mahasiswa kedokteran. Pada awal pembentukannya, keanggotaan IMKI adalah kenggotaan personal dan bukan keanggotaan senat mahasiswa.
Pada periode awal, kegiatan yang diselenggarakan oleh IMKI antara lain adalah melakukan pertukaran mahasiswa kedokteran dengan Jerman dan membina kerjasama dengan ARMSA. Salah satu hal penting yang perlu dicatat dengan diselenggarakannya rapat kerja IMKI yang pertama di Bali pada tahun 1970 ialah menetapkan penyelenggaraan MUNAS I IMKI di Makasar dengan Sterring Committee Syafri Guricci dari Universitas Hasanudin. Namun sayangnya hasil MUNAS I tidak disebutkan dengan jelas.
Pada tanggal 15 Januari 1974 terjadi peristiwa demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial yang dikenal dengan Malari (Malapetaka Lima belas Januari). Malari terjadi pada saat Perdana menteri Jepang, Kakuel Tanaka berkunjung ke Jakarta, 14 Januari 1974 dan disambut dengan aksi demo mahasiswa di pangkalan udara Halim Perdanakusuma. Namun karena dijaga ketat oleh petugas, mahasiswa gagal menorobos sehingga terjadi aksi kerusuhan dan penjarahan Jakarta besar-besaran. Peristiwa malari melibatkan Hariman Siregar yang pada saat itu tengah menjabat sebagai fungsionaris IMKI, akibatnya IMKI sempat mengalami kevakuman. Untuk mengembalikan arah kebijakan organisasi mahasiwa yang sebelumnya telah terpolitisir, Dirjen DIKTI mengeluarkan konsep NKK (Normalisasi Kebijakan Kampus). Salah satu perwujudan konsep tersebut adalah pembentukan ISMS (Ikatan Senat Mahasiswa Sejenis). Konsep tersebut menimbulkan banyak kontroversi di kalangan mahasiswa.
Pemerintah melalui Dr. Abdul Gafur mencoba mengadakan pendekatan kepada Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran untuk ikut mendukung penerapan konsep NKK dengan membentuk Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia. Respon yang pertama datang dari Senat Mahasiswa UNHAS (Universitas Hasanudin). Pra MUNAS ISMKI I dilaksanakan di Makasasar yang diwarnai berbagai pertentangan pendapat antar peserta yang hadir. Pada awalnya sebagian besar peserta menolak pembentukan ISMKI dan bersikeras mempertahankan IMKI. Akhirnya setelah dilakukan lobi-lobi dan pendekatan disepkati akan dilaksanakan Munas ISMKI I di Makassar pada bulan September 1981. ISMKI didklarasikan di Makassar pada tanggal 20 September 1981. Munas ISMKI I di Makassar berhasil membuat keputusan dan menetapkan:
1. AD/ART ISMKI
2. Garis-garis pokok kebijaksanaan ISMKI
3. Presidium ISMKI dan MPM ( Majelis Pertimbangan Musyawarah)
4. BP Munas dan Sekjen ISMKI. Sekjen terpilih yaitu Faried dari UGM.

ISMKI dari waktu ke waktu
Periode Kepengurusan 1981-1985
Perjalanan ISMKI di tahun-tahun awal setelah kelahirannya mengalami berbagai hambatan yang terutama disebabkan karena kurang dapat diterimanya ISMKI oleh beberapa kalangan mahasiswa kedokteran sendiri. Hal ini mengakibatkan pelaksanaan Mukernas tertunda sampai dengan tahun 1982. Program kerja pengurus ISMKI 1981-1983 akhirnya berhasil disusun pada mukernas yang dilaksanakan di Universitas Udayana, Bali 28-30 Agustus 1982. Program-program yang telah disusun tersebut sebagian telah berhasil dilaksanakan terutama dari wilayah IV, walaupun dalam pelaksanaannya tidak begitu lancar. Kepengurusan ini seharusnya berakhir pada tahun 1983. namun,karena adanya berbagai hambatan dan rintangan Munas II baru bisa terlaksana pada tahun 1985.
Munas II dilaksanakan di Yogyakarta, 26-31 Juni 1985. Bersamaan dengan Munas diselenggarakan pula Temu Ilmiah Nasional(Temilnas). Peserta yang hadir pada kesempatan itu adalah delegasi dari USU, UNAND, UNSRI, UI, UNPAD, UGM, UNS, UNDIP, UNIBRAW, UNHAS ,UNSRAT, YARSI,UKM, dan UNISSULA.

Periode Kepengurusan 1985-1987
Pada periode kepengurusan ini timbul masalah tak terduga, yaitu adanya pengaruh politik pemerintahan dalam mengatur massa. Direktur Kemahasiswaan sebagai penanggung jawab ISMKI berkeinginan meninjau kembali AD/ADART agar lebih sesuai dengan kondisi Depdikbud. Ternyata permasalahan ditambah dengan adanya kekurangfahamahan anggota baru tentang wadah ISMKI sehingga dalam pelaksanaan program masih mengacu pada hasil Mukernas I. Dalam organisasi ISMKI sendiri terjadi pembagian wilayah untuk lebih menyesuaikan dengan pedoman pelaksanaan kegiatan mahasiswa yang mengacu pada Polbimawa(pola pembinaan Mahasiswa) yang dikeluarkan oleh Dirjen DIKTI. Pada periode ini sekjen dibantu oleh 7 orang sekbid dan 5 orang Sekwil. Pada saat itu DPR sedang mengkaji UU Keormasan. Agar ISMKI tidak terjebak pada UU tersebut, diadakanlah Munaslub tersebut gagal karena tidak semua wakil datang dan Forum tidak tercapai.
Munas III dilaksanakan di Malang 28-31 Januari 1987. Pada Munas ini keanggotaan ISMKI bertambah menjadi 20. Anggota tersebut adalah senat mahasiswa Univ.Trisakti, Univ YARSI,Univ.Atmajaya, UNTAR, UKI, dan UNSYIAH. Sedangkan UNISSULA baru menjadi anggota setelah melengkapi syarat-syarat administrasi. Sekjen terpilih adalah Budi Santoso dari Senat mahasiswa UNAIR yang diputuskan satu jam sebelum pelantikan.

Periode Kepengurusan 1987-1988
Kondisi ISMKI yang mengambang karena tidak dilaksanakannya Mukernas dan Kesekretariatan yang tidak teratur meneyebabkann penyusunan program kerja terhambat. Pada akhirnya Sekjen berhasil menyusun program kerja dan diserahkan ke DIKTI. Sedangkan program kerja SEKWIL menyusul. Pada masa itu Sekjen melakukan perubahan perangkat Organisasi, yaitu adanya 9 orang Sekbid dan 5 orang Sekwil yang membantu pelaksanaan program kerja.Pada tahun 1987, diberangkatkan delegasi ISMKI ke Asian Medical Student’s Confrence VII di Malaysia dan juga pada tahun 1988 untuk acara yang serupa.
Munas IV ISMKI berlangsung di Surabaya dengan sekjen terpilih Arief Tri Wibowo dari senat mahasiswa UI.


Periode Kepengurusan 1988-1990
Pada periode ini diselenggarakan Asian Medical Student’s Confrence(AMSC) di Jakarta dan Bali yang menetapkan Novik Tri Bawono dari senat Mahasiswa UI sebagai presiden AMSA X. Munas V ISMKI diselenggarakan di Jakarta dan menetapkan Marhaen hardjo dari senat mahasiswa UNHAS sebagai sekjen terpilih . Berbagai keputusan lainnya adalah :
1. Menetapkan perubahan AD/ART ISMKI.
2. Menetapkan GBHO.
3. Menetapkan Sekjen dan MPA.
4. Mensukseskan kegiatan AMSC XI di Seoul.
5. Menyelesaikan masalah wajib kerja sarjana dokter pegawai tidak tetap.

Periode Kepengurusan 1990-1992
Pada periode ini lembaga MPA diaktifkan kembali yang beranggotakan 5 orang dari masing-masing wilayah. Lembaga ini berfungsi :
1. Sebagai tempat konsultasi Sekjen.
2. Memberikan nasehat atau teguran kepada Sekjen.
3. Inisiatif Munaslub.
Rakernas yang dilaksanakan pada bulan mei 1991 berhasil merumuskan program kerja sebagai berikut:
1. Menyelesaikan masalah dokter PTT.
2. Menyelesaikan masalah kedokteran Swasta.
3. Berpartisipasi dalam AMSC XI di seoul.
4. Menyelenggarakan bakti Sosial Nasional.
5. menyelenggaraan Pramunas dan Munas VI ISMKI.
Program kerja yang terlaksana :
1. Sekbid Dalam negeri : Konfrensi Pers tentang pernyataan sikap ISMKI menegenai peratutan dokter PTT di sekretariat PB IDI pada bulan agustus 1991.
2. Sekbid Luar negeri : Mengikuti AMSC XI di seoul dengan jumlah delegasi 29 orang.
3. Sekbid swasta : mengadakan pertemuan antara senat mahasiswa kedokteran swasta se-Jakarta dengan DPR untuk membicarakan nasib FK swasta.
4. Sekbid pengabdian masyarakat : mengadakan Baksos di kalimantan dengan pelaksana Senat mahasiswa Univ.Trisakti dan kemah Kerja Bakti Mahasiswa (KKBM) di Lubuk Banggai, Sulawesi Tengah.
Pelaksanaan Munas VI sempat mundur 6 bulan karena bersamaan dengan pelaksanaan sidang umum MPR. Akhirnya Munas VI berlangsung di Makasar bulan september 1993. Sekjen terpilih adalahg Irfan afriandi dari senat mahasiswa UNPAD.

Periode Kepengurusan 1993-1995
Dalam menjalankan tugas sekjen dibantu oleh 7 orang sekbid dan 5 orang sekwil. Masalah yang dihadapi pada periode ini adalah masalah pendanaan dan tidak adanya kesekretariatan yang tetap. Pramunas VII diselenggarakan di UNDIP dan memutuskan bahwa pada temilnas yang akan diikuti oleh seluruh anggota akan dibahas penelitian murni yang berbasis pada data aktual di berbagai sentra. Pada periode ini terjadi pelepasan AMSA menjadi organisasi baru yang diharapkan dapat berjalan berdampingan dengan ISMKI. Namun dalam pendirian AMSA selanjutnya tidak ada nota kesepahaman antar organisasi sehingga tidak ada keterikatan organisasi. Selanjutnya ISMKI lebih berfokus pada IFMSA(Internasional Federation of Medical Student’s Assocoation).
Munas VII ISMKI diselenggarakan di UNDIP, Semarang. Sebagai sekjen terpilih adalah Adnan Ibrahim dari senat mahasiswa UGM. Senat mahaiswa UMI ditetapkan menjadi anggota baru ISMKI. Selain itu pula Munas menetapkan adanya wakil sekjen yang berfungsi :
1. Menggantikan sekjen bila berhalangan hadir.
2. Membangun kerjasama dengan lembaga-lembaga terkait sebagai mitra ISMKI terutama yang berada di Jakarta.
3. Mewakili Sekjen dalam membantu tugas-tugas fungsional dalam upaya memperkenalkan ISMKI pada Pihak-pihak eksternal, baik dalam maupun luar negeri.

Periode Kepengurusan 1995-1997
Dibentuknya wakil sekjen telah memberi nuansa baru di ISMKI dimana terjadi komplementasi dan peran-peran strategis ISMKI secara adil dan merata dalam membangun suatu organisasi yang menekankan egalitarian dan partisipasi. Demikian pula dengan adanya juru bicara di bawah Sekbid KIK membantu optimalisasi komunikasi dan konsolidasi organisasi secara internal dan eksternal.
Orientasi kebijakan ISMKI pada periode ini :
1. Kembali ke kampus, upaya mengusung aspirasi mahasiswa kedokteran yang masih terpolarisasi dan berserakan serta sering tidak terakomodir melalui lambang senat mahasiswa FK sebagai bagian dari ISMKI.
2. Intelektual progesif,yaitu perumusan aspirasi yang ada dalam format komprehensif,berwawasan,sistematis,sarat idealisme dan argumentatif untuk selanjutnya diberi daya gerak secara aktif dimanifestasikan dalam tindakan riil bagi setiap upaya perubahan dan perbaikan.
3. Katalisator perubahan dalam menjalankan perannya sebagai mediator antar pemerintah sebagai pengambil keputusan di bidang kesehatan, mahasiswa kedokteran sebagai calon dokter ,dan masyarakat sebagai pengguna jasa kesehatan agar terwujud optimalisasi pelayanan kesehatan yang merata di masyarakat dalam berbagai strata sosial dan geografis.
Munas VII ISMKI di selenggrakan di Medan dengan sekjen terpilih Riyadh Firdaus dari senat mahasiswa UI.Sekjen dalam melaksanakan tugas dibantu oleh wasekjen, 5 orang sekbid, dan 5 orang sekwil yang diangkat dan bertanggung jawab kepada sekjen.

Periode Kepengurusan 1997-1999
Pada tahun 1998 ISMKI diterima menjadi anggota penuh IFMSA. Pada periode ini wasekjen yang bertugas membnatu sekjen mengundurkan diri sebelum masa jabatannya selesai.Munas IX ISMKI dilaksanakan pada bulan september 1999 di FK UNAIR,Surabaya. Munas ini dihadiri oleh 30 delegasi senat mahasiswa fakultas kedokteran se-Indonesia. Beberapa hasil keputusan :
1. Menetapkan perubahan AD/ART ISMKI.
2. Menetapkan GBHO.
3. Ditetapkannya otonomi bagi setiap wilayah.
4. Memilih dan menetapkan Ardiansyah dara Sjahrudin dari BEM FK univ.Trisakti sebagai sekjen.
5. Menetapkan jumlah anggota MPA menjadi 10 orang, 2 orang dari masing-masing wilayah.
ISMKI kini
Hingga kini, tidak banyak yang tau tentang ISMKI termasuk mahasiswa baru di kedokteran sendiri. Namun ternyata ISMKI telah sering mengadakan kegiatan positif menyangkut pengabdian dan pelayanan mereka kepada masyarakat. Kegiatan – kegiatan tersebut dapat dilihat dalam berbagai situs di internet termasuk situs resmi ISMKI. Seiring dengan perkembangan waktu, ISMKI dapat lebih populer karena peran aktifnya sebagai realisasi tanggung jawab kepada masyarakat..

Struktur ISMKI
ISMKI atau dalam bahasa Inggris Indonesian Medical Student`s Executive Board Association (IMSEBA) memiliki banyak SCO (Standing Committee On) atau lebih dikenal dengan Badan Kelengkapan (BK) yang sekarang dikordinasikan oleh Coordinator of Project Affair. BK terdiri dari bagian – bagian yang masing – masing memiliki tugas internal masing – masing yaitu :
 Sosial Service Center (SSC)
 Standing Committee on Reproductive anda AIDS (SCORA)
 Pendidikan dan Profesi (PENDPRO)
 Badan Pers Nasional (BPN)
 Badan Analisa dan Pengembangan Imiah (BAPIN)

ISMKI juga terdiri dari berbagai divisi antara lain divisi Temu Ilmiah Nasional (TELMINAS), divisi Multi Center, divisi Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia (JIMKI), divisi Research Exchange, divisi Humas dan TI serta divisi Pengembangan Lembaga Penelitian dan Ilmiah . Antara divisi yang satu dengan divisi yang lain memiliki fungsi dan tugas internal tersendiri, namun tetap berkaitan dan saling mendukung satu sama lain. Karena ISMKI berskala nasional maka konsekuensi logisnya masing – masing divisi dan struktur yang ada terdiri dari mahasiswa di seluruh Indonesia. Sehingga mahasiswa kedokteran di Indonesia dapat saling berhubungan dan menjalin kerja sama yang baik. Untuk memudahkan terjadinya komunikasi antara universitas dibentuklah ISMKI per regional daerah. Universits Islam Indonesia (UII) masuk dalam ISMKI wilayah III. Anggota dalam wilayah III tidak hanya UII tetapi juga universitas lain yang memiliki fakultas kedokteran di wilayah Jogja, Semarang, Solo, Purwokerto dan Kalimantan Timur. Kegiatan per wilayah berbeda – beda namun tetap disesuaikan dengan ISMKI Nasional sebagai pusatnya.

Perlukah bergabung dalam ISMKI ?
Dokter tidak hanya berhubungan dengan satu pasien dari satu wilayah. Begitupun lokasi penugasan seorang dokter yang kemungkinan tidak hanya di satu tempat. Oleh karena itu seorang dokter yang baik harus mampu dan siap bertugas dimanapun dan bekerja sama dengan siapapun. Untuk melakukan kerja sama dibutuhkan channel yang akan memberi banyak kemudahan dalam berbagai kegiatan. Selain untuk memberikan banyak channel mengikuti sebuah organisasi juga merupakan proses belajar yang sesungguhnya di samping pendidikan akademik di bangku kuliah umum. Sumber pengalaman yang memang dibutuhkan untuk menjalani sebuah profesi tidak lain berasal dari kegiatan keorganisasian yang diikuti. Ada banyak manfaat yang dapat diambil dengan mengikuti sebuah organisasi yang tidak hanya dirasakan pada saat itu tetapi juga membawa dampak besar dalam proses kehidupan selanjutnya. Selain pengalaman, kemampuan bersosialisasi , kemampuan berkomunikasi, serta kemampuan administrasi diri dan badan organisasi menjadi alasan logis pentingnya bergabung dalam sebuah organisasi.
Sebagai dokter, berbagai kemampuan non akademik tadi sangat dibutuhkan pada praktek di lapangan. Oleh karena itu ISMKI juga menjadi sangat penting sebagai wadah belajar dan penggalian pengalaman calon-calon dokter di Indonesia. Ketergabungan anggota ISMKI sepantasnya tidak hanya secara fisik, karena didalamnya dibutuhkan tanggung jawab secara moral dan psikis yang harus diambil. Komitmen kuat dari setiap anggota harus ditanamkan karena memegang andil besar dalam keberlangsungan ISMKI periode berikutnya. Selanjutnya keberlangsungan ISMKI akan berpengaruh pada kemajuan di bidang kedokteran, bahkan kemajuan masyarakat secara umum. Komitmen untuk tetap meneruskan perjuangan sebagai tonggak kemajuan dalam bidang kesehatan serta mempertahankan semangat yang sejak awal tertanan dalam diri mahasiswa kedokteran untuk merubah dunia menjadi lebih baik. Membantu masyarakat dengan nilai kesetaraan yang dari awal telah dijelaskan harus terus dipupuk, agar paradigma lama menjadi seorang dokter yang hanya didasarkan dari sisi ekonomi benar-benar terhapuskan. Sehingga tugas awal dokter tidak terkontaminasii dengan materi semata.
Kesucian sebuah komitmen dan tujuan dokter menjadi sangat penting apalagi dalam konteks berbangsa dan bernegara. Mari kita tumbuhkan semangat perjuangan dalam dada mahasiswa kedokteran dan tetap menjaga kesucian komitmen dalam rangka perwujudan tugas sebagai pengabdi dan pelayan masyarakat . Dokter memiliki tugas berat tidak hanya secara fisik tetapi juga secara psikis dan moral terhadap jiwa manusia lain. Namun yakinlah niat baik akan selalu berdampak positif tergantung bagaimana cara menyikapi dan mensyukurinya. Kita semua berharap mendatang akan lahir dr. Sudiro Husodo baru di penjuru negeri ini melalui sebuah organisasi pemuda kedokteran, ISMKI. Ubah paradigma dokter maka duniapun akan ikut berubah !